KabarBaik.co – Polisi akhirnya mengungkap siapa otak di balik pembakaran Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Ternyata, pelakunya bukan warga Jawa Timur, melainkan seorang pemuda berinisial AEP (20) asal Maluku Tengah.
AEP diketahui sudah beberapa waktu terakhir tinggal sementara di Sidoarjo. Dari sinilah ia kemudian terlibat dalam kerusuhan yang terjadi pada akhir Agustus 2025 di Surabaya.
Berbeda dengan pelaku lain, peran AEP sangat menonjol. Ia tidak hanya ikut-ikutan, melainkan menjadi perencana sekaligus eksekutor utama dalam pelemparan bom molotov ke arah Gedung Grahadi.
Menurut hasil penyelidikan, AEP bersama tiga anak lainnya meracik lima bom molotov di Lapangan Bumi Cabean Asri, Sidoarjo. Bom itu lalu dilemparkan sekitar pukul 21.00 WIB saat suasana unjuk rasa yang awalnya damai mulai berubah anarkis.
Ledakan api langsung membakar sisi barat Gedung Grahadi. Sejumlah ruangan penting hangus terbakar, termasuk ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur dan Press Room yang berada di dalam gedung bersejarah tersebut.
Selain AEP, ada delapan pelaku lain yang masih berstatus anak-anak. Mereka diproses melalui hukum khusus anak, sedangkan AEP ditahan penyidik Polda Jatim untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Polisi menegaskan tindakan itu murni kriminal dan tidak ada kaitannya dengan penyampaian aspirasi masyarakat. Para pelaku dijerat Pasal 187 KUHP tentang tindak pidana kebakaran, dengan ancaman hukuman lima hingga 12 tahun penjara.
Secara keseluruhan, Polda Jatim sudah menetapkan 33 orang sebagai tersangka dalam rangkaian kerusuhan Surabaya pada 29–31 Agustus. Selain pembakaran Gedung Grahadi, ada juga penyerangan Mapolsek Tegalsari dan penjarahan fasilitas umum.
Prediksi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun terbukti benar. Ia sebelumnya menyebut, warga Jatim tidak akan tega merusak Gedung Grahadi yang merupakan ikon bersejarah sekaligus simbol pemerintahan Jawa Timur. (*)








