KabarBaik.co, Surabaya – Peringatan Hari Bidan Nasional yang jatuh setiap 24 Juni menjadi momentum untuk mengingat kembali peran penting bidan dalam menjaga kesehatan perempuan. Tak hanya mendampingi proses kehamilan dan persalinan, bidan juga memiliki tugas besar dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi sejak usia remaja.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Dr. Wahyul Anis menegaskan bahwa kesehatan reproduksi merupakan fondasi penting bagi kesehatan seseorang di masa depan. Karena itu, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi perlu ditanamkan sejak dini.
“Bidan merupakan profesi kesehatan yang berperan dalam kesehatan perempuan sepanjang siklus hidupnya,” kata Wahyul, Kamis (25/6).
Menurutnya, masa remaja menjadi periode yang tepat untuk mulai mengenalkan berbagai aspek kesehatan reproduksi. Di usia tersebut, seseorang mulai memasuki masa pubertas dan menghadapi berbagai perubahan fisik maupun psikologis yang perlu dipahami dengan benar.
Wahyul menjelaskan kemudahan akses informasi melalui internet dan media sosial memang memberikan banyak manfaat. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman jika tidak disertai kemampuan menyaring informasi yang benar.
Karena itu, peran bidan sebagai sumber edukasi kesehatan yang terpercaya menjadi semakin penting. Kehadiran bidan dapat membantu remaja memperoleh informasi yang tepat terkait kesehatan reproduksi dan pola hidup sehat.
Ia juga mengingatkan bahwa berbagai masalah kesehatan reproduksi kerap berawal dari perilaku seksual berisiko. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan dan berbagai persoalan kesehatan lainnya.
Selain itu, pola hidup yang kurang sehat juga menjadi perhatian. Konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan, misalnya, dapat memicu obesitas yang berdampak pada kesehatan reproduksi perempuan di kemudian hari.
“Jika calon ibu mengalami obesitas, risiko hipertensi dalam kehamilan akan meningkat,” ujarnya.
Hipertensi saat kehamilan, lanjut Wahyul, bukan kondisi yang bisa dianggap sepele. Komplikasi yang muncul dapat berupa kejang, perdarahan, hingga gangguan pertumbuhan janin yang berisiko memengaruhi kesehatan ibu dan bayi.
Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi sebaiknya diberikan sebelum remaja memasuki masa pubertas. Meski demikian, ia mengakui pembahasan mengenai kesehatan reproduksi masih kerap dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.
Untuk mengatasi hal tersebut, pendekatan melalui teman sebaya dinilai dapat menjadi salah satu cara efektif. Edukasi juga perlu dilakukan secara bertahap dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh generasi muda.
Dalam momentum Hari Bidan Nasional, Wahyul mengajak para remaja untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri, termasuk kesehatan reproduksi.
“Jaga kesehatan dirimu dan kesehatan reproduksimu. Perempuan yang sehat akan melahirkan generasi sehat,” pungkasnya. (*)






