KabarBaik.co – Persewangi Banyuwangi dipastikan gagal melaju ke fase nasional setelah gugur di babak 32 besar tingkat Provinsi Jawa Timur musim ini. Kegagalan tersebut menuai banyak kritik.
Salah satunya dari pemerhati sepak bola Banyuwangi, Hibbul Hadi, yang menilai hasil itu menjadi kemunduran signifikan dibandingkan capaian tim musim lalu.
Menurut Hibbul, Persewangi yang pada musim sebelumnya tampil sebagai juara Jawa Timur, musim ini harus tersingkir lebih awal meski berangkat dengan komposisi awal yang relatif serupa.
Ia menyebut klub tetap menghadirkan pelatih dan pemain dengan rekam jejak yang mentereng, namun performa di lapangan tidak mencerminkan kekuatan tersebut.
“Musim ini Persewangi memulai kompetisi dengan ekspektasi besar, seperti musim lalu. Namun secara permainan, hasil di lapangan tidak menunjukkan soliditas dan daya saing yang sama,” ujar Hibbul.
Ia menilai sejak babak 64 besar, performa Persewangi sudah menunjukkan tanda-tanda tidak meyakinkan. Menurutnya, komposisi pemain yang dibawa pelatih Francis Wawengkang belum mampu menghadirkan permainan yang stabil dan konsisten untuk mengamankan kemenangan demi kemenangan.
“Dibandingkan musim lalu, perbedaannya terasa. Dulu tim terlihat lebih lapar dan berani, sekarang cenderung ragu dan mudah dibaca,” katanya.
Hibbul juga menyoroti dampak dari performa pemain nonlokal yang dinilai tidak optimal. Ia menyebut situasi itu justru berimbas kepada pemain lokal Banyuwangi yang ikut menanggung beban kritik publik, meski tidak sepenuhnya menjadi penentu kegagalan tim.
“Ketika tim gagal, pemain lokal yang harus tetap tinggal di Banyuwangi ikut menerima tekanan. Sementara pemain dari luar daerah bisa dengan mudah pergi dan mencari klub lain,” ujarnya.
Lebih jauh, Hibbul menyebut wacana pembentukan Persewangi 9370 kembali mencuat di tengah kekecewaan publik. Menurutnya, gagasan tersebut mulai dilihat sebagai alternatif untuk membangun tim yang lebih memberi ruang dan penghargaan kepada pemain-pemain lokal Banyuwangi.
“Awalnya saya melihatnya terlalu dini. Tetapi dengan kondisi sekarang dan bagaimana bakat lokal kurang mendapat tempat, wacana itu kembali relevan,” kata dia.
Meski Persewangi harus mengakhiri langkahnya di babak 32 besar, Hibbul berharap kegagalan ini menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola klub. Ia menilai sepak bola Banyuwangi memiliki potensi besar yang tidak semestinya berhenti pada hasil yang mengecewakan di level provinsi.







