Seiring Usia Bertambah, Kenali Sarkopenia agar Tetap Aktif di Hari Tua, Ini Penjelasan Dokter RSUD Jombang

oleh -475 Dilihat
Dokter Spesialis Ortopedi RSUD Jombang, dr. Raden Taufan Mulyo, Sp.OT, mengedukasi masyarakat tentang sarkopenia dan pentingnya menjaga kekuatan otot seiring bertambahnya usia.(istimewa)
Dokter Spesialis Ortopedi RSUD Jombang, dr. Raden Taufan Mulyo, Sp.OT, mengedukasi masyarakat tentang sarkopenia dan pentingnya menjaga kekuatan otot seiring bertambahnya usia.(istimewa)

KabarBaik.co Jombang – Seiring bertambahnya usia, tubuh secara alami mengalami penurunan massa dan kekuatan otot. Kondisi yang dikenal sebagai sarkopenia ini kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan, padahal jika tidak diantisipasi dapat meningkatkan risiko jatuh, patah tulang, hingga menurunkan kualitas hidup.

Dokter Spesialis Ortopedi RSUD Jombang, dr. Raden Taufan Mulyo, Sp.OT, mengimbau masyarakat, terutama lanjut usia, untuk mengenali gejala sarkopenia sejak dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Sarkopenia adalah kondisi penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot yang terjadi secara progresif seiring bertambahnya usia. Kondisi ini berkaitan erat dengan sistem muskuloskeletal karena otot yang melemah dapat meningkatkan risiko jatuh, patah tulang, hingga mempercepat osteoporosis,” ujar dr. Taufan dalam keterangan yang diterima, Senin (29/6/2026).

Menurut dia, gejala sarkopenia umumnya ditandai dengan menurunnya kekuatan fisik, seperti sulit berdiri dari posisi duduk, berjalan lebih lambat, mudah lelah, hingga lebih sering kehilangan keseimbangan atau terjatuh.

Ia menjelaskan, faktor usia menjadi penyebab utama munculnya sarkopenia, terutama pada mereka yang telah berusia di atas 60 tahun. Proses penuaan tersebut diikuti dengan penurunan hormon, seperti testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan.

Selain itu, sejumlah penyakit kronis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya sarkopenia.

“Diabetes maupun infeksi kronis seperti tuberkulosis dapat memicu terjadinya sarkopenia. Kondisi kurang gizi juga berpengaruh. Ditambah lagi sekarang banyak masyarakat yang memiliki kebiasaan malas bergerak atau mager,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

Ia menyebutkan, prevalensi sarkopenia di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 9-10 persen, sementara di beberapa negara angka kejadiannya dapat mencapai 30-40 persen.

Untuk mencegah sarkopenia, dr. Taufan menyarankan masyarakat tetap aktif berolahraga dan rutin melakukan latihan penguatan otot.

Latihan sederhana seperti mengangkat beban ringan, wall push-up, squat, latihan duduk-berdiri, hingga berdiri jinjit dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan.

Selain aktivitas fisik, pola makan bergizi seimbang dengan asupan protein yang cukup juga menjadi kunci menjaga kesehatan otot.

“Daging merah, daging ayam, ikan, susu, serta vitamin D dapat membantu memenuhi kebutuhan otot. Jangan takut mengonsumsi protein karena tubuh yang semakin bertambah usia justru membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur selama enam hingga delapan jam setiap malam untuk membantu proses pemulihan dan menjaga kesehatan otot.

Apabila mulai merasakan gejala sarkopenia, masyarakat disarankan segera berkonsultasi ke tenaga medis.

Di RSUD Jombang, layanan Poli Ortopedi buka setiap Senin hingga Jumat pukul 08.00-14.00 WIB dan didukung oleh tiga dokter spesialis ortopedi serta fasilitas laboratorium klinik untuk membantu menegakkan diagnosis secara tepat. (ADV)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.