KabarBaik.co, Lumajang– BPBD Jatim menggelar simulasi evakuasi mandiri tsunami. Kegiatan digelar di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Tempursari, Lumajang pada 25-26 April 2026.
Kegiatan diawali dengan Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat mengenai bencana gempa dan tsunami. Momen ini sekaligus mengingatkan seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya budaya sadar bencana dan kesiapsiagaan.
“Budaya sadar bencana semestinya melekat menjadi gaya hidup masyarakat. Ilmu mengenai evakuasi mandiri ini bisa ditularkan kepada keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar,” ujar Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda dalam keterangannya, Selasa (28/4).
Andhika mengatakan ,elalui kegiatan simulasi, diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarwarga, pemerintah dan relawan. Mengingat bahwa bencana adalah urusan semua orang, sehingga dalam situasi bencana tidak ada yang bisa berdiri sendiri, semua harus saling menjaga dan melindungi.
“Simulasi tsunami ini bermanfaat besar bagi warga. Supaya kami tahu dan belajar agar siap menghadapi situasi darurat dan dapat melakukan evakuasi mandiri,” kata Kepala Desa Tegalrejo Nyono.
Skenario simulasi diawali dengan terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,1 di titik 10.13 LS 112.96 BT di kedalaman 10 kilometer pada pukul 09.00 WIB. Goncangan gempa dirasakan pula di Desa Tegalrejo. Selang 26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari BMKG Stasiun Geofisika Malang bahwa gempa menimbulkan potensi tsunami di Desa Tegalrejo.
Perangkat desa segera mengumumkan adanya gelombang tsunami mendekati area mereka melalui pengeras suara dari musala sekitar desa. Seketika warga keluar rumah dan berlari ke arah zona aman tsunami atau blue zone yaitu di kaki Gunung Kursi.
Peserta yang terlibat dalam simulasi ini berjumlah 300 orang, melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang mewakili berbagai jenjang usia, termasuk kelompok perempuan dan kelompok rentan yaitu lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak.
Posisi desa yang memiliki warga sekitar 3.690 jiwa ini dikelilingi pegunungan dan berada di pesisir Selatan Provinsi Jatim. Kondisi geografis yang demikian membuatnya menjadi kawasan paling terpencil di Lumajang.
Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, letak Desa Tegalrejo berhadapan tegak lurus dengan sumber kegempaan yang biasa disebut megathrust. Berdasarkan pemodelan tsunami yang dilakukan, desa ini berpotensi mengalami gempa bumi mencapai 6 MMI (Modified Mercalli Intensity) yang akan merusak bangunan dan rendaman tsunami setinggi 15 meter sejauh kurang lebih 3 kilometer dari garis pantai.
Kondisi seperti itu tentu membutuhkan respon cepat dari masyarakat. Mereka harus mampu melakukan evakuasi mandiri sebab waktu kritis (golden time) untuk menyelamatkan diri ke tempat aman berkisar 20 menit.
Sebelumnya, BPBD Jatim sudah menggelar simulasi tsunami di tiga titik yaitu Pantai Balekambang (Malang), Demak (Tulungagung), Watu Karung (Pacitan), serta secara bersamaan kemarin di Pantai Ngadipuro (Trenggalek). Secara keseluruhan, terdapat 60 titik berisiko tsunami di sepanjang pesisir Selatan Provinsi Jatim.
Simulasi ini juga turut didukung oleh Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Tim Reaksi Cepat BPBD, petugas kesehatan, dan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Lumajang.
Perwakilan Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui yang turut hadir pula dalam simulasi tsunami, menyampaikan apresiasinya kepada BPBD Jatim dan BPBD Lumajang atas kegiatan yang inovatif dan kolaboratif ini.
“Dengan adanya kegiatan multipihak seperti ini, dapat menguatkan pemahaman masyarakat dalam merespon situasi gawat darurat. Terlebih dengan adanya inisiatif untuk membentuk semacam buddy system atau menunjuk seorang pemimpin di setiap lingkungan tempat tinggal, sebagai penanggung jawab terhadap masyarakat di area tersebut,” papar Christine.
Ditambahkan oleh Mambaus Suud, Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Provinsi Jatim, pemerintah desa perlu membuat mekanisme atau strategi evakuasi sampai di tingkat dusun.
“Setiap dusun menunjuk satu orang sebagai penanggung jawab untuk mengidentifikasi kemampuan sumber daya di lokasinya yang bisa dioptimalkan saat evakuasi,” terangnya.
Ada koordinasi jelas dan terintegrasi dari berbagai pihak, terutama pemerintah di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Fungsi-fungsi dalam diseminasi peringatan dini dan evakuasi harus diperjelas, dan disediakan area evakuasi alternatif sehingga mengantisipasi adanya chaos dalam proses evakuasi itu sendiri.
Inisiatif ini diharapkan juga dapat memperkuat semua pihak terkait untuk saling berbagi pembelajaran, menguji sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta mekanisme koordinasi antarlembaga. Termasuk memperkuat solidaritas sosial serta menumbuhkan budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, diharapkan melalui inisiatif cerdas seperti ini, masyarakat Jatim akan semakin siap, tangguh, dan mampu merespon ancaman bencana secara cepat dan tepat, sehingga dapat memastikan bahwa semua bisa selamat saat bencana terjadi. (*)







