KabarBaik.co, Blitar – Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar mengakui sosialisasi program Sekolah Rakyat masih perlu diperkuat. Sebab, hingga kini masih banyak orang tua calon peserta didik yang ragu menyekolahkan anaknya karena khawatir dengan sistem pendidikan berasrama.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin mengatakan, sebagian besar keraguan muncul karena masyarakat belum memahami konsep Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah pusat. Menurutnya, banyak orang tua masih menyamakan Sekolah Rakyat dengan sekolah berasrama pada umumnya.
“Kami memang butuh kerja ekstra keras untuk meyakinkan masyarakat. Mereka masih banyak bertanya apakah anaknya nanti benar-benar dirawat dengan baik di sana. Apalagi masih ada kekhawatiran karena mendengar berbagai kasus di sekolah berasrama,” ujarnya, Senin (6/7).
Untuk menghilangkan keraguan tersebut, lanjut dia, Pemkot Blitar berencana kembali mengundang para orang tua calon siswa sebelum kegiatan belajar dimulai. Mereka akan diajak melihat langsung fasilitas Sekolah Rakyat agar memperoleh gambaran nyata mengenai lingkungan tempat anak-anak mereka belajar dan tinggal.
“Nanti orang tua akan kami ajak langsung ke Sekolah Rakyat. Setelah melihat kondisi di sana, mereka bisa menilai sendiri apakah anaknya siap sekolah di sana atau tidak,” katanya.
Ibin -sapaan akrab Wali Kota- menjelaskan, Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga Desil 1, anak putus sekolah, hingga anak-anak yang berasal dari keluarga tidak utuh atau yatim piatu. Program tersebut diharapkan menjadi solusi agar kelompok rentan tetap memperoleh akses pendidikan yang layak.
“Prioritasnya memang anak-anak Desil 1, anak putus sekolah, kemudian anak-anak yang orang tuanya tidak lengkap atau bahkan sudah tidak memiliki kedua orang tua,” jelasnya.
Menurut Ibin, tantangan terbesar saat ini bukan pada kesiapan fasilitas, melainkan membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan berasrama, terutama bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar.
“Kendalanya orang tua masih belum merelakan anak-anaknya tinggal di asrama, khususnya yang masih SD. Karena itu sosialisasi akan terus kami lakukan supaya mereka benar-benar memahami konsep Sekolah Rakyat,” pungkasnya. (*)






