KabarBaik.co, Banyuwangi – Warga Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menggelar tradisi Ithuk-ithukan, Rabu (29/4). Ritual ini diperkirakan sudah berusia ratusan tahub menjadi ungkapan syukur atas keberadaan sumber air yang selama ini mencukupi kebutuhan warga.
Kegiatan diawali dengan arak-arakan warga menuju Sumber Kajar. Kaum ibu membawa ithuk berisi makanan seperti nasi dan lauk pauk di atas kepala. Setibanya di lokasi, warga duduk bersama dan memanjatkan doa.
Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, mengatakan tradisi Ithuk-ithukan merupakan warisan turun-temurun yang rutin digelar setiap 12 Dzulqaidah sebagai bentuk rasa syukur atas ketersediaan air.
“Tradisi ini sebagai ungkapan syukur atas limpahan air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga,” ujarnya.
Suwandi mengatakan mata air kajar mengaliri sejumlah kecamatan yang ada di Banyuwangi. Peruntukannya untuk minum, air pertaninan bahkan juga untuk wisata.
Oleh karenanya, dalam gelaran ini banyak masyarakat dari sejumlah desa sekitar juga datang mengikuti ritual. Usai doa, warga makan bersama dengan hidangan yang telah dibawa. Warga juga mengambil air yang dipercaya membawa berkah.
Salah satunya adalah Susianti, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Susianti yang sudah berusia sekitar 80-an tahun mengikuti tradisi tersebut sejak kecil.
“Sejak saya kecil diajak bapak. Sampai sekarang ikut,” kata dia.
Tetua Adat Dusun Rejopuro, Sarino, menyebut tradisi tersebut juga menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kebersamaan dan kepedulian sosial.
“Tradisi ini mengajarkan untuk berbagi dan menjaga kebersamaan,” katanya.







