Antisipasi Banjir Bandang, BPBD Kota Batu Bersihkan 109 Titik Rawan di Hulu DAS Brantas

oleh -104 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 24 at 12.44.34 PM
Penyisiran hulu DAS Brantas antisipasi sebelum datangnya musim penghujan (foto: BPBD Kota Batu)

KabarBaik.co, Batu – Ancaman banjir bandang dari kawasan hulu menjadi perhatian serius BPBD Kota Batu. Upaya mitigasi diperkuat dengan menyisir dan membersihkan 109 titik rawan penyumbatan di sepanjang alur sungai hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Penyisiran tersebut dilakukan tim gabungan sejak Juni 2026 dan rampung pada 12 Agustus 2026. Selain memetakan titik rawan, petugas juga membersihkan sejumlah material yang berpotensi menghambat aliran sungai, mulai dari kayu tumbang, rumpun bambu, material longsoran hingga sampah pertanian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan langkah tersebut merupakan mitigasi dini untuk menghadapi potensi hujan berintensitas tinggi.

“Dari rangkaian kegiatan yang kita mulai sejak Juni dan selesai 12 Agustus kemarin, tim berhasil mengidentifikasi dan membersihkan 109 titik rawan,” ujar Gatot, Senin (24/8).

Dari hasil penyisiran, titik rawan tersebar di enam kawasan hulu. Di Sumber Darmi ditemukan 17 titik, terdiri atas 16 titik kayu tumbang dan satu titik longsor. Kawasan tersebut memiliki catatan kebencanaan karena sebelumnya pernah diterjang banjir bandang yang menyebabkan pipa jaringan air bersih milik Perumdam Among Tirto terputus.

Berikutnya, di Sungai Krecek terdapat 27 titik rawan. Temuan tersebut terdiri dari 18 kayu melintang, satu rumpun bambu, tiga titik longsor dan tujuh aliran sungai baru.

Di kawasan Glagahwangi, tim menemukan 26 titik rawan yang meliputi delapan kayu tumbang, 10 rumpun bambu, satu titik longsor, enam aliran baru serta tumpukan sampah pertanian.

Sementara di Sumber Brantas Pohon 8 terdapat 10 titik rawan. Empat di antaranya merupakan titik aliran yang terdampak material longsoran.

Adapun kawasan Coban Petung dan Pusung Lading masing-masing ditemukan 28 titik rawan penyumbatan. Material yang berada di dua kawasan tersebut dinilai berpotensi menghambat aliran air ketika debit sungai mengalami peningkatan.

Gatot menegaskan mitigasi tidak sebatas melakukan pendataan. Material yang dinilai berisiko langsung ditangani agar tidak menjadi penghalang aliran sungai.

“Mitigasi ini sifatnya menyeluruh. Pohon-pohon yang melintang kita potong-potong agar tidak menghalangi arus air, lalu disisihkan ke pinggiran sungai,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan material kayu tumbang, bambu, longsoran maupun sampah pertanian di kawasan hulu harus diantisipasi. Jika terbawa arus deras, material tersebut dapat menumpuk dan membentuk bendung alam yang berpotensi meningkatkan ancaman banjir bandang.

Kekhawatiran tersebut tidak lepas dari pengalaman bencana banjir bandang di Bulukerto pada November 2021. Kala itu, material kayu dari lereng Gunung Arjuno-Welirang yang sebelumnya terdampak kebakaran hutan dan lahan pada 2019 terbawa aliran hujan.

Material kayu mati dan tumbang kemudian menumpuk di kawasan Pusung Lading hingga membentuk bendung alam. Saat hujan deras mengguyur kawasan hulu, bendung tersebut jebol dan mengalirkan air bah bercampur lumpur serta kayu ke kawasan permukiman warga.

Dengan selesainya pembersihan 109 titik tersebut, BPBD Kota Batu berharap potensi penyumbatan aliran sungai dapat ditekan sebelum memasuki periode hujan dengan intensitas tinggi.

“Yang jelas, mitigasi kawasan hulu menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi sekaligus memastikan aliran sungai tetap mampu menampung peningkatan debit air saat hujan deras,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.