KabarBaik.co, Malang – Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, menegaskan pentingnya penguatan kerja sama lintas daerah dalam mendorong pemerataan ekonomi di Jawa Timur, khususnya kawasan selatan.
Menurutnya, berdasarkan data dari BPS Jawa Timur saat ini kontribusi ekonomi wilayah utara Jawa Timur mencapai sekitar 52 persen, sementara wilayah selatan masih berada di kisaran 25 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ketimpangan yang perlu segera diatasi melalui kolaborasi dan visi pembangunan bersama.
“Dengan adanya kerja sama dan visi misi maju bersama, saya yakin persoalan ekonomi, ekologi, dan sosial bisa diselesaikan,” ujar Asep, saat ditemui diruangannya, Senin (8/6).
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah mendorong pengembangan kawasan pesisir melalui konsep green economy dan blue economy. Menurutnya, potensi sumber daya alam di kawasan tersebut sangat besar, terutama setelah adanya kebijakan Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK).
Asep menyebutkan, dari sekitar 1,1 juta hektare kawasan hutan lindung dan produksi yang sebelumnya dikelola Perhutani, kini terdapat sekitar 500 ribu hektare kawasan KHDPK yang dapat dikelola oleh masyarakat melalui kelompok-kelompok tertentu.
“KHDPK ini bisa dikelola masyarakat, tapi harus dalam bentuk kelompok. Potensi di sana sangat banyak untuk mengangkat ekonomi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pengelolaan kawasan tersebut harus tetap memperhatikan aturan dan batasan yang berlaku, terutama terkait keberlanjutan lingkungan. Pemerintah, kata dia, harus mampu menyeimbangkan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam.
Lebih lanjut, Asep menyoroti potensi besar wilayah Malang Selatan yang telah terkoneksi dengan kawasan pantai di daerah lain. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan, termasuk penyelesaian konektivitas antara Kabupaten Malang dan Blitar, khususnya di kawasan Pantai Modangan.
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut salah satunya disebabkan perubahan trase pada proyek jalan lintas selatan sepanjang sekitar 660 kilometer dari Pacitan hingga Banyuwangi. Perubahan tersebut turut memengaruhi Detail Engineering Design (DED) serta panjang ruas jalan yang direncanakan.
“Perubahan trase itu berdampak pada DED dan juga panjang ruas. Hal ini membuat pelaksanaannya tidak bisa sesuai rencana awal,” ujarnya.
Meski demikian, ia optimistis pengembangan kawasan pesisir akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, termasuk UMKM dan sektor pariwisata. Saat ini, di wilayah Malang Selatan terdapat sekitar 18 destinasi wisata yang sudah berjalan, sementara di Blitar Selatan juga mulai muncul potensi wisata baru.
Menurutnya, optimalisasi pengelolaan kawasan, kepastian usaha, serta penguatan kelembagaan menjadi kunci dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan di wilayah selatan Jawa Timur.
“Kalau dikelola dengan baik, dampaknya akan langsung terlihat pada peningkatan pendapatan masyarakat,” tandasnya. (*)






