Final Piala Dunia 2026: Sepatu Pinjaman, Kutukan Gelar Ganda, dan Mimpi Terakhir Messi

oleh -210 Dilihat
SEPATU EMAS

KabarBaik.co, AS- Partai final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina, Senin (20/7) dini hari, pukul 02.00 WIB, bukan sekadar pertaruhan trofi emas berlapis prestise. Bagi Lionel Messi, laga di Stadion MetLife itu adalah panggung pembuktian terakhir untuk menantang batas kemustahilan. Yakni, merebut trofi Golden Boot atau Sepatu Emas dari cengkeraman sang rival, Kylian Mbappe.

Saat ini, Mbappe kokoh memimpin bursa top skor dengan koleksi 10 gol. Penyerang sekaligus kapten Prancis itu menutup keran golnya dengan spektakuler setelah memborong dua gol dalam laga perebutan tempat ketiga yang dramatis kontra Inggris, dengan skor akhir 6-4.

Di bawah Mbappe, Messi menguntit dengan 8 gol. Secara matematis, peluang La Pulga untuk mengawinkan trofi juara dengan Sepatu Emas Piala Dunia itu masih terbuka. Syaratnya? Sang ”penyihir” berusia 39 tahun itu harus mampu mencetak hat-trick alias tiga gol ke gawang Spanyol. Atau, minimal mencetak dua gol dan menambah pasokan assist demi memenangi aturan tie-breaker.

Jika Messi berhasil melakukan keajaiban tersebut, ia tidak hanya akan mengkudeta Mbappe. Tapi, juga akan masuk ke dalam jajaran elite pencetak gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia, bersanding dengan para legenda terdahulu.

Berdasarkan data, penguasa Sepatu Emas dari masa ke masa sejauh ini masih dipegang Just Fontaine (Prancis, 1958) dengan 13 gol. Baru kemudian disusul Sandor Kocsis (Hungaria, 1954) dengan 11 gol. Dan sepuluh gol dicatatkan Gerd Müller (Jerman Barat, 1970) dan Mbappé (Prancis, 2026).

Kilas Balik dan Riwayat Sepatu Emas

Meskipun FIFA selalu mencatat pencetak gol terbanyak sejak Piala Dunia edisi pertama tahun 1930, trofi fisik Sepatu Emas sebenarnya tidak langsung ada. Penghargaan tersebut baru resmi lahir dalam bentuk trofi fisik pada Piala Dunia 1982 di Spanyol.

Ketika kali pertama diperkenalkan, nama penghargaan bukanlah Golden Boot, melainkan Golden Shoe. Striker legendaris Italia, Paolo Rossi, menjadi pemain pertama yang beruntung membawa pulang trofi fisik tersebut ke negara tempat asalnya.

Nama penghargaan itu kemudian diubah secara resmi oleh FIFA menjadi Golden Boot pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Nama para pencetak gol terbanyak dari edisi 1930 hingga 1978 tetap diakui secara retrospektif sebagai peraih Sepatu Emas.

Banyak orang yang mengira bahwa trofi Sepatu Emas dibuat dari bongkahan emas murni. Namun, fakta material dari lambang supremasi penyerang tertajam di dunia ini justru berkata lain. Trofi ikonik ini sebenarnya terbuat dari bahan dasar paduan kuningan yang padat. Logam tersebut kemudian dipahat rapi dan dilapisi dengan emas murni melalui proses elektroplating agar menghasilkan kilau yang memukau.

Jika menilik harga material intrinsiknya, nilai pembuatan trofi ini diperkirakan hanya berkisar di angka beberapa ribu dolar saja. Nilai tersebut tentu jauh lebih rendah dibandingkan trofi utama Piala Dunia yang harganya mencapai miliaran rupiah.

Meskipun biaya produksinya terbilang standar bagi ajang sebesar Piala Dunia, nilai sejarah trofi tersebut tidak ada tandingannya. Jika salah satu Sepatu Emas milik para legenda dilelang, harganya dipastikan akan langsung melambung hingga jutaan dolar.

Dongeng Sepatu Pinjaman hingga Kutukan Ganda

Panggung perburuan trofi pencetak gol terbanyak di pesata sepak bola sejagad ini juga menyimpan berbagai kisah unik yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Salah satu cerita yang paling melegenda datang dari Prancis pada edisi Piala Dunia tahun 1958.

Kala itu, penyerang andalan Prancis bernama Just Fontaine mendadak mendapati sepatu bola miliknya rusak menjelang turnamen dimulai. Karena situasi yang mendesak, seorang pemain cadangan Prancis akhirnya bersedia meminjamkan sepatu bola miliknya kepada Fontaine.

Di luar dugaan, sepatu pinjaman tersebut justru membawa berkah yang luar biasa bagi lini serang Prancis. Menggunakan sepatu pinjaman tersebut, Fontaine mengamuk dan berhasil mencetak total 13 gol dalam satu edisi turnamen. Catatan fantastis tersebut menjadi rekor gol tunggal yang belum terpecahkan oleh siapa pun hingga saat ini.

Selain kisah sepatu pinjaman, ada pula mitos mengenai kutukan gelar ganda yang sangat sulit dipecahkan. Sangat jarang ada pemain yang mampu mengawinkan gelar juara Piala Dunia sekaligus menyabet penghargaan Sepatu Emas.

Sepanjang sejarah turnamen modern, hanya ada segelintir pemain genius seperti Mario Kempes dan Ronaldo Nazario yang mampu menaklukkan kutukan tersebut. Hal inilah yang membuat misi Lionel Messi di laga final nanti menjadi semakin dinantikan oleh seluruh dunia.

Dongeng Akhir Karier dan Dominasi Generasi Baru

Mencetak tiga gol di partai final Piala Dunia melawan tim sekelas Spanyol, jelas terbilang kecil peluangnya. Namun, melabeli sesuatu sebagai “mustahil” bagi seorang Lionel Messi sering kali berakhir keliru. Apalagi, motif Messi kali ini berlipat ganda. Di luar Sepatu Emas edisi ini, Mbappe baru saja memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan total 22 gol, melampaui catatan total 21 gol milik Messi.

Nah, Senin dini hari nanti, jutaan pasang mata di seluruh dunia, termasuk para pencinta sepak bola di Indonesia yang bersiap begadang pada pukul 02.00 WIB, akan menjadi saksi. Apakah Messi akan menutup karier internasionalnya dengan dongeng terbesar dalam sejarah sepak bola dan mematahkan segala mitos kutukan gelar ganda, ataukah tirani gol Kylian Mbappe resmi tak tergoyahkan?

Semua jawaban ada di kaki Lionel Messi dalam 90 menit atau ada extra time di laga final nanti. Prediksi Anda? (*)

Daftar Peraih Sepatu Emas Piala Dunia dari Masa ke Masa

  • 1930 Uruguay: Guillermo Stábile (Argentina) – 8 gol
  • 1934 Italia: Oldřich Nejedlý (Cekoslowakia) – 5 gol
  • 1938 Prancis: Leônidas da Silva (Brasil) – 7 gol
  • 1950 Brasil: Ademir (Brasil) – 8 gol
  • 1954 Swiss: Sándor Kocsis (Hungaria) – 11 gol
  • 1958 Swedia: Just Fontaine (Prancis) – 13 gol
  • 1962 Cile: Flórián Albert (Hungaria), Garrincha (Brasil), Valentin Ivanov (Uni Soviet), Drazan Jerkovic (Yugoslavia), Leonel Sanchez (Cile), Vava (Brasil) – masing-masing 4 gol
  • 1966 Inggris: Eusébio (Portugal) – 9 gol
  • 1970 Meksiko: Gerd Müller (Jerman Barat) – 10 gol
  • 1974 Jerman Barat: Grzegorz Lato (Polandia) – 7 gol
  • 1978 Argentina: Mario Kempes (Argentina) – 6 gol
  • 1982 Spanyol: Paolo Rossi (Italia) – 6 gol
  • 1986 Meksiko: Gary Lineker (Inggris) – 6 gol
  • 1990 Italia: Salvatore Schillaci (Italia) – 6 gol
  • 1994 Amerika Serikat: Oleg Salenko (Rusia) & Hristo Stoichkov (Bulgaria) – masing-masing 6 gol
  • 1998 Prancis: Davor Šuker (Kroasia) – 6 gol
  • 2002 Korea-Jepang: Ronaldo (Brasil) – 8 gol
  • 2006 Jerman: Miroslav Klose (Jerman) – 5 gol
  • 2010 Afrika Selatan: Thomas Müller (Jerman) – 5 gol
  • 2014 Brasil: James Rodríguez (Kolombia) – 6 gol
  • 2018 Rusia: Harry Kane (Inggris) – 6 gol
  • 2022 Qatar: Kylian Mbappé (Prancis) – 8 gol

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.