KabarBaik.co, Sidoarjo – Suasana khidmat menyelimuti halaman Masjid Al-Kalam, Kelurahan Juwetkenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Sabtu (18/7) malam. Ribuan jemaah dari Dukuh Juwet, Gondang, dan Kenongo berkumpul untuk mengikuti Haul ke-69 Al-Maghfurlah Mbah Kiai Kalam dan para sesepuh desa. Di tengah ribuan warga, Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana turut hadir mengikuti rangkaian doa bersama.
Sebelum acara dimulai, Mimik lebih dahulu berziarah ke makam Mbah Kiai Kalam yang berada di kompleks Masjid Al-Kalam. Ia bersama para tokoh agama memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan atas jasa ulama yang selama ini menjadi panutan masyarakat.
Menurut Mimik, haul bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang sekaligus mengambil pelajaran dari perjuangan para ulama yang telah mengabdikan hidupnya bagi umat, bangsa, dan masyarakat.
Ia mengatakan nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, serta pengorbanan yang diwariskan para pendahulu masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus meneruskan warisan tersebut.
“Kita patut mendoakan beliau-beliau ini, ilmu dan pelajaran beliau masih menjadi pegangan kita saat ini,” kata Mimik.
Dalam kesempatan itu, Wabup perempuan pertama di Sidoarjo tersebut mengajak masyarakat terus menghidupkan tradisi yang diajarkan Mbah Kiai Kalam. Mulai dari memperbanyak mengaji, bersalawat hingga mengabdikan diri kepada umat sebagai bagian dari penguatan iman dan ketakwaan.
“Melalui haul seperti ini, mari kita jaga tiga hal yaitu mendoakan, meneladani, dan meneruskan apa yang dulu beliau ajarkan yaitu mengaji, bersalawat, berkhimad kepada umat dan bangsa,” ujarnya.
Mimik juga menilai kegiatan haul memiliki makna besar dalam mempererat hubungan antarmasyarakat. Kebersamaan yang terjalin melalui kegiatan keagamaan diyakini mampu memperkuat persaudaraan sekaligus menumbuhkan semangat saling mendoakan dalam kebaikan.
Di akhir sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga akidah dengan tetap berpegang teguh pada ajaran para ulama sebagai pewaris nabi. Dengan fondasi keimanan yang kuat, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
“Dengan keyakinan yang kuat, kita dapat kembali kepada keimanan kita yang hakiki,” pungkasnya.(*)






