KabarBaik.co, Sidoarjo — Inovasi hasil penelitian perguruan tinggi kini mulai mendapat ruang lebih besar dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan memanfaatkan benih jagung unggul dan berbagai teknologi pertanian yang dikembangkan kampus tersebut.
Kerja sama itu ditandai dengan pembelian benih jagung hibrida varietas MTE-09 senilai Rp 10 miliar. Benih tersebut akan dimanfaatkan untuk budidaya jagung di lahan seluas sekitar 13 ribu hektare dan dibagikan kepada petani sebagai bagian dari program peningkatan produktivitas pertanian.
Kesepakatan tersebut diumumkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat berkunjung ke Kampus ITS Buncitan di Dusun/Desa Buncitan, Sedati, Sidoarjo, Rabu (22/7).
Dalam kesempatan itu, Amran menjelaskan bahwa varietas MTE-09 dipilih setelah menunjukkan potensi hasil panen yang jauh di atas rata-rata produksi jagung nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas jagung Indonesia pada 2024 tercatat sekitar 5,94 ton per hektare, sedangkan benih hasil riset ITS diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektare.
“Hari ini kami transaksi langsung beli. Bibit ini akan kami bagikan secara gratis kepada petani. ITS kami minta mengawal hingga produktivitas rata-rata mencapai 10 ton per hektare. Kalau itu tercapai, produksi jagung nasional meningkat tanpa harus menambah luas lahan,” katanya.
Pendampingan dari tim peneliti ITS akan dilakukan sejak proses penanaman hingga panen. Skema tersebut dipilih agar seluruh tahapan budidaya dapat dipantau sekaligus menjadi bahan evaluasi sebelum benih diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Tak hanya benih jagung, Kementerian Pertanian juga memberikan kepercayaan kepada ITS melalui pemesanan tiga teknologi mekanisasi pertanian yang telah dikembangkan kampus tersebut. Ketiganya meliputi Traktor Perahu Existing bertenaga listrik yang dapat dioperasikan di lahan sawah maupun lahan kering, ROPATAMA sebagai alat tanam padi listrik empat baris, serta MOCITS yang membantu petani memanjat pohon kelapa dengan lebih aman dan efisien.
Menurutnya, peningkatan produksi pangan ke depan harus didorong melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi, bukan semata-mata dengan memperluas areal pertanian. Konsep serupa juga tengah diterapkan pada komoditas padi melalui pengembangan benih unggul dan penyempurnaan sistem budidaya.
“Kita harus memulai. Yang perlu disempurnakan nanti kita sempurnakan bersama. Semua negara maju juga berproses seperti itu,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah terus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi agar berbagai hasil penelitian dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Melalui sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah, inovasi diharapkan tidak berhenti sebagai penelitian, tetapi mampu diproduksi secara massal.
“Ini adalah perintah Bapak Presiden, prioritaskan hasil-hasil atau produk-produk dari kampus,” imbuhnya.
Amran mengungkapkan pola kerja sama tersebut juga telah diterapkan pada sejumlah perguruan tinggi lain. Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sekitar Rp 250 miliar untuk pengadaan benih padi hasil riset IPB, Rp 40 miliar untuk benih kedelai yang dikembangkan UGM, serta mendukung pengembangan ayam unggul dan teknologi drone bersama Universitas Hasanuddin.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menyatakan kesiapan kampusnya untuk terus menghadirkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan sektor pertanian nasional, khususnya melalui pengembangan mekanisasi berbasis teknologi.
“Kami berkomitmen mendukung program pemerintah melalui inovasi mekanisasi pertanian. Jika hasil uji berjalan baik, kami akan menggandeng industri agar teknologi ini dapat diproduksi secara massal,” jelasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, ITS berharap hasil riset yang selama ini dikembangkan di lingkungan kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi petani. Evaluasi terhadap performa benih MTE-09 maupun berbagai alat pertanian yang dipesan Kementerian Pertanian akan menjadi dasar sebelum inovasi tersebut diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah di Indonesia. (*)







