KabarBaik.co, Bojonegoro – Target Pemkab Bojonegoro untuk melakukan perluasan areal tanam tembakau di tahun 2026 ini terancam tidak tercapai. Hal itu dikarenakan kemarau musim ini membuat sumber air semakin berkurang dan kondisi lahan pertanian mengeras, sehingga petani kesulitan mengolah tanah maupun mempertahankan tanaman yang telah ditanam.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, target luas tanam tembakau tahun ini dipatok mencapai 15.958,19 hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi tanam pada 2025 yang mencapai sekitar 15.000 hektare. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal bahwa target tahun ini akan sulit diwujudkan apabila cuaca kering terus berlangsung.
Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bojonegoro, Kiswanto, menilai, di tahun ini pemkab Bojonegoro dapat mempertahankan luasan lahan pertanian tembakau sama dengan tahun sebelumnya sudah masuk dalam katagori baik. Hal itu didasarkan dengan musim kemarau di tahun ini diprediksi bakal lebih kering jika dibandingkan dengan tahun lalu.
“Kalau menurut saya, bisa seperti tahun kemarin saja sudah bagus,” ujarnya, Selasa (21/7).
Menurutnya, ancaman tidak tercapainya target bukan dipicu menurunnya minat petani menanam tembakau. Justru sebaliknya, antusiasme petani masih tinggi, tetapi kondisi alam membuat mereka kesulitan memperluas areal tanam.
“Minat petani tidak menurun, tapi juga harus melihat kondisi alam” katanya.
Kiswanto menjelaskan minimnya curah hujan menyebabkan tanah menjadi keras sehingga proses pengolahan lahan membutuhkan tenaga dan biaya lebih besar. Selain itu, pasokan air yang terus menyusut membuat sebagian tanaman tembakau yang ditanam lebih awal tidak mampu bertahan.
“Lahannya sudah mulai keras sehingga sulit diolah. Tanaman yang ditanam lebih awal juga banyak yang mati. Sumber air mulai berkurang, jadi penyebabnya cukup banyak,” jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, petani cenderung lebih berhati-hati membuka lahan baru karena khawatir tanaman tidak dapat tumbuh optimal hingga masa panen.
Sementara itu, Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Bambang Wahyudi mengatakan bahwa hingga kini luas tanam tembakau di Bojonegoro baru mencapai sekitar 10.409 hektare.
Meski demikian, pihaknya mengaku belum menerima laporan resmi mengenai tanaman tembakau yang mati ataupun gagal tanam.
“Untuk sementara belum ada laporan mengenai tanaman tembakau yang mati,” ujarnya.
Meski belum ada laporan resmi, kondisi kemarau yang semakin terik diperkirakan masih menjadi tantangan utama bagi petani dalam mengejar target luas tanam tembakau hingga akhir musim tanam tahun ini. (*)






