KabarBaik.co, Jakarta – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk, mencatat kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, meski dihadapkan pada tekanan pelemahan harga nikel global.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025, Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$1,435 miliar dengan EBITDA mencapai US$219 juta. Capaian ini ditopang oleh peningkatan volume produksi nikel serta kontribusi kuat dari segmen hilir.
Kinerja tersebut mencerminkan ketahanan operasional MBMA dalam merespons dinamika pasar komoditas yang fluktuatif. Sepanjang 2025, MBMA mencatat kemajuan signifikan di seluruh rantai nilai nikel terintegrasi.
Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, dengan produksi bijih saprolit mencapai 7,0 juta wet metric ton (wmt) dan limonit sebesar 14,7 juta wmt. Peningkatan ini tidak hanya memperkuat pasokan bahan baku untuk fasilitas hilir, tetapi juga mendorong efisiensi dan integrasi operasional Perseroan.
Di sektor hilir, MBMA terus meningkatkan kapasitas pengolahan guna mendorong nilai tambah. Produksi Nickel Pig Iron (NPI) tercatat sebesar 73.871 ton, sementara High-Grade Nickel Matte (HGNM) mencapai 19.998 ton.
Adapun proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) juga menunjukkan perkembangan positif, dengan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) mencapai sekitar 25.994 ton.
Selain itu, proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dikelola PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) terus menunjukkan progres konstruktif dan berada di jalur yang tepat menuju tahap produksi penuh melalui empat fasilitas pengolahan terintegrasi.
Di tengah tekanan harga nikel global, MBMA mampu menjaga kinerja tetap resilien melalui strategi peningkatan volume produksi, efisiensi operasional, serta optimalisasi integrasi dari hulu hingga hilir. Perseroan juga disiplin dalam mengelola struktur biaya, termasuk menghadapi kenaikan biaya operasional akibat kebijakan biodiesel dan penyesuaian tarif royalti.
Memasuki 2026, MBMA optimistis melanjutkan tren pertumbuhan. Perseroan menargetkan produksi bijih saprolit sebesar 8–10 juta wmt dan limonit 20–25 juta wmt. Sementara itu, produksi NPI diproyeksikan berada di kisaran 70.000–80.000 ton, dan HGNM sebesar 44.000–48.000 ton.
Upaya efisiensi juga terus diperkuat, seiring keberhasilan menurunkan biaya tunai NPI sebesar 9 persen secara tahunan pada 2025. MBMA menargetkan tercapainya swasembada bijih 100 persen pada tahun fiskal 2026 melalui optimalisasi pasokan internal dari SCM.
Perseroan juga telah mengoperasikan fasilitas Feed Preparation Plant (FPP) untuk mendukung pengiriman slurry limonit melalui jalur pipa ke fasilitas HPAL milik PT ESG New Energy Material. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung target produksi MHP sebesar 27.000–30.000 ton pada 2026.
Di sisi lain, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai rencana. Commissioning jalur pertama ditargetkan berlangsung pada semester II 2026.
Komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) juga terus diperkuat. Sepanjang 2025, MBMA mencatat kemajuan dalam aspek keselamatan kerja, efisiensi energi dan air, serta pengelolaan lingkungan.
Perseroan juga aktif mendorong pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, sekaligus menekan emisi melalui optimalisasi operasional.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menyatakan bahwa kinerja Perseroan tetap terjaga di tengah tekanan harga nikel global.
“MBMA berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh berkat peningkatan volume produksi dan margin di segmen hilir. Ke depan, kami akan mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi guna memperkuat pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya, Minggu (5/4).
Dengan fondasi operasional yang kuat, portofolio aset terintegrasi, serta disiplin dalam pengelolaan biaya dan investasi, MBMA optimistis dapat menangkap peluang pertumbuhan di industri kendaraan listrik global. (*)






