KabarBaik.co, Surabaya – Konsumen diperkirakan perlu bersiap menghadapi kenaikan harga berbagai produk yang dijual di pusat perbelanjaan pada kuartal IV 2026. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai pelaku usaha mulai kesulitan menanggung lonjakan biaya produksi yang selama ini masih diserap, sehingga penyesuaian harga dinilai semakin sulit dihindari.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan harga barang yang beredar di pusat perbelanjaan hingga semester I dan awal semester II 2026 masih didominasi stok lama yang diproduksi sebelum biaya produksi meningkat. Karena itu, kenaikan harga yang terjadi sejauh ini masih relatif terbatas.
“Di triwulan II dan triwulan III harga memang sudah mulai bergerak naik, tetapi belum signifikan karena yang dijual masih merupakan stok lama. Nanti di triwulan IV hampir pasti harga akan naik. Itu yang harus diantisipasi,” ujar Alphonzus, Selasa (14/7).
Menurut dia, tekanan biaya yang dihadapi pelaku usaha berasal dari berbagai faktor. Mulai dari kenaikan ongkos logistik, biaya energi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya suku bunga pinjaman yang berdampak pada biaya operasional perusahaan.
Di sisi lain, industri ritel juga masih menghadapi tantangan berupa lemahnya permintaan masyarakat. Aktivitas belanja saat ini memasuki periode low season, sementara ketidakpastian ekonomi global masih membayangi prospek konsumsi domestik.
“Biaya logistik naik, biaya energi naik, nilai tukar rupiah bergejolak, kemudian tingkat suku bunga pinjaman juga meningkat. Semua itu menjadi tekanan bagi dunia usaha,” katanya.
APPBI memperkirakan kenaikan biaya tersebut akan berdampak pada hampir seluruh kategori produk yang dijual di pusat perbelanjaan. Beban pelaku usaha juga dinilai bertambah akibat sejumlah gangguan operasional, termasuk pemadaman listrik bergilir yang sempat terjadi di beberapa wilayah.
Meski demikian, Alphonzus mengingatkan bahwa penyesuaian harga berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang daya belinya dinilai belum sepenuhnya pulih.
“Kalau harga naik, yang paling terdampak adalah kelas menengah bawah. Daya beli masyarakat saat ini masih belum kembali normal,” ujarnya.
Karena itu, APPBI meminta pemerintah menjaga stabilitas ekonomi agar tekanan terhadap dunia usaha tidak semakin besar. Pelaku usaha, kata Alphonzus, membutuhkan kepastian kebijakan, stabilitas nilai tukar rupiah, suku bunga yang lebih kondusif, serta jaminan pasokan listrik agar kegiatan usaha dapat berjalan normal.
“Yang dibutuhkan adalah kondisi usaha yang lebih kondusif. Pemerintah perlu menjaga stabilitas suku bunga, nilai tukar, dan memastikan tidak ada gangguan teknis seperti pasokan listrik yang justru menambah beban pelaku usaha,” katanya.
APPBI menilai kenaikan harga barang pada kuartal IV 2026 berpotensi menjadi tantangan baru bagi konsumsi rumah tangga. Di tengah pemulihan daya beli yang belum sepenuhnya kuat, ruang pelaku usaha untuk terus menanggung lonjakan biaya produksi semakin terbatas, sehingga penyesuaian harga diperkirakan menjadi langkah yang sulit dihindari. (*)






