KabarBaik.co, Surabaya – Kabar kurang menggembirakan datang bagi warga yang kerap berbelanja di mal. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memperkirakan harga sejumlah barang di mal berpotensi mengalami kenaikan pada akhir 2026.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan saat ini pelaku usaha ritel masih berupaya menahan kenaikan harga demi menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah yang menjadi kontributor utama transaksi di pusat perbelanjaan.
Namun, menurutnya, ruang bagi peritel untuk mempertahankan harga semakin terbatas. Berbagai komponen biaya usaha terus meningkat, mulai dari biaya operasional, logistik, energi hingga beban bunga pinjaman.
“Kalau ini berkelanjutan terus, kami khawatir di triwulan IV-2026 para pelaku usaha ritel tidak bisa tidak menaikkan harga,” kata Alphonzus, Minggu (14/6).
Ia menjelaskan hingga saat ini sebagian besar peritel masih menjual barang dari stok lama yang dibeli ketika nilai tukar rupiah berada pada level yang lebih baik. Kondisi tersebut membuat harga jual kepada konsumen masih relatif terkendali.
Namun situasi diperkirakan berubah menjelang kuartal IV-2026. Pada periode tersebut, pelaku usaha biasanya mulai melakukan pengadaan barang untuk menghadapi lonjakan permintaan saat musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Jika pelemahan rupiah masih berlanjut saat proses restocking dilakukan, biaya pengadaan barang akan meningkat sehingga berdampak langsung pada harga jual di tingkat konsumen.
“Biasanya kalau kita mau masuk ke peak season, contohnya ke triwulan empat, Natal dan tahun baru, teman-teman peritel biasanya akan membeli barang untuk stok. Kalau kondisinya masih seperti ini, pasti harga barang-barang sudah mahal semua,” ujarnya.
Meski demikian, Alphonzus menegaskan bahwa menaikkan harga bukan pilihan yang diinginkan pelaku usaha. Pasalnya, kondisi daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih, terutama di segmen menengah ke bawah yang menjadi pasar utama sektor ritel.
Menurutnya, kenaikan harga justru berpotensi menambah tekanan terhadap konsumsi masyarakat yang saat ini masih dalam proses pemulihan. “Kalau harga produk dinaikkan, bukannya ini justru memperparah daya beli masyarakat?” katanya.
Karena itu, APPBI berharap kondisi makroekonomi nasional, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah, dapat membaik dalam beberapa bulan ke depan. Dengan demikian, tekanan biaya yang saat ini dihadapi pelaku usaha tidak perlu diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang.
Perbaikan nilai tukar dan iklim usaha yang lebih kondusif dinilai menjadi kunci agar sektor ritel tetap tumbuh tanpa membebani masyarakat menjelang periode belanja akhir tahun. (*)






