KabarBaik.co, Mataram – Dentuman keras bom berpengatur waktu (timer bomb) memecah suasana di Lapangan Bhara Daksa Mapolda NTB, Rabu (1/7), sesaat setelah Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 berakhir. Rentetan tembakan, aksi pengejaran pelaku bersenjata, hingga ledakan drone bermuatan bahan peledak membuat ribuan tamu undangan terpaku menyaksikan jalannya peragaan taktis yang disuguhkan Polda Nusa Tenggara Barat.
Meski berlangsung dramatis layaknya operasi sesungguhnya, seluruh rangkaian tersebut merupakan simulasi penanganan aksi kriminal dan teror bertajuk Patroli Rinjani Presisi, yang menjadi atraksi penutup peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Simulasi melibatkan berbagai satuan kerja di lingkungan Polda NTB, mulai dari operator layanan darurat 110, Tim Patroli Presisi, Tim Jatanras Ditreskrimum, Crime Response Team (CRT) Brimob, Tim Penjinak Bom (Jibom), Unit Anti Drone, Tim Dokkes, hingga Tim Inafis.
Skenario diawali dengan aksi pembegalan dan penjambretan terhadap seorang pengendara sepeda motor perempuan oleh lima pelaku bersenjata tajam dan senjata api. Korban kemudian menghubungi layanan darurat Polri 110 yang langsung direspons Command Center Polda NTB dengan mengerahkan Tim Patroli Presisi ke lokasi.
Di lokasi kejadian, petugas mengumpulkan keterangan korban, sementara Tim Dokkes memberikan pertolongan pertama sebelum korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Hasil penyelidikan kemudian mengarah pada sebuah rumah yang menjadi tempat persembunyian para pelaku. Informasi tersebut segera dilaporkan kepada Kapolda NTB yang memerintahkan pengerahan personel CRT Brimob untuk melakukan pengejaran dan penindakan.
Ketegangan memuncak ketika empat pelaku keluar dari rumah menggunakan dua sepeda motor sambil menenteng senjata api. Upaya penangkapan berubah menjadi baku tembak setelah para pelaku memberikan perlawanan. Dalam simulasi itu, satu pelaku berhasil dilumpuhkan setelah terjatuh dari sepeda motornya.
Belum sempat situasi terkendali, seorang pelaku lain muncul membawa bom bunuh diri dan mendekati personel kepolisian. Tim Jibom bergerak cepat melakukan sterilisasi untuk mengantisipasi ancaman ledakan. Di saat bersamaan, dua pelaku lainnya kembali masuk ke rumah persembunyian. Seorang personel CRT digambarkan terkena serpihan ledakan sehingga rekan-rekannya langsung menerapkan prosedur man down untuk mengevakuasi korban sebelum operasi kembali dilanjutkan.
Ancaman kemudian meningkat dengan munculnya drone yang membawa bahan peledak. Salah satu drone meledak di dekat kendaraan taktis CRT, sementara Unit Anti Drone segera melakukan pemindaian frekuensi dan berhasil mendeteksi drone lain yang keluar dari dalam rumah. Drone tersebut kemudian diambil alih kendalinya dan diarahkan ke lokasi aman untuk diledakkan secara terkendali.
Puncak simulasi terjadi ketika operator Jibom menemukan bahan peledak dengan sistem timer di dalam bangunan. Karena tidak memungkinkan dipindahkan ke lokasi aman, operator memilih keluar demi keselamatan. Namun sebelum berhasil meninggalkan lokasi, bom timer meledak dengan dentuman keras yang membuat operator terpental akibat kuatnya daya ledak. Dalam skenario tersebut, operator dinyatakan selamat dan kembali menuju Pos Komando Taktis (Poskotis) untuk melanjutkan operasi.
Setelah seluruh ancaman berhasil dinetralisir, Tim CRT melaksanakan operasi raid ke rumah persembunyian pelaku. Rangkaian simulasi kemudian ditutup dengan olah tempat kejadian perkara oleh Tim Inafis Polda NTB sebelum seluruh perkembangan situasi dilaporkan kepada Command Center. Atraksi tersebut menjadi salah satu penampilan yang paling menyita perhatian usai Upacara Hari Bhayangkara ke-80.
Selain menampilkan koordinasi lintas satuan, simulasi juga menggambarkan kemampuan personel menghadapi ancaman kejahatan jalanan, aksi teror, hingga serangan berbasis teknologi seperti drone peledak. Kapolda NTB, Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja mengatakan, simulasi yang diperagakan merupakan gambaran kesiapsiagaan Polri dalam menghadapi berbagai potensi ancaman, baik dalam tugas kepolisian sehari-hari maupun operasi khusus yang melibatkan personel Brimob.
“Simulasi ini merupakan bentuk kesiapsiagaan Polri baik dalam melaksanakan tugas umum maupun khusus seperti yang dilakukan Brimob, sehingga dalam kondisi apapun yang terjadi dapat kita atasi,” ujar Kapolda NTB. (*)






