KabarBaik.co – Selama dua pekan pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2025, Satlantas Polresta Sidoarjo kembali dibuat waspada oleh tingginya angka pelanggaran lalu lintas. Sejak 17 hingga 30 November, petugas mencatat 36.546 pengendara melakukan pelanggaran, baik yang berujung teguran maupun sanksi tilang.
Kanit Turjawali Satlantas Polresta Sidoarjo AKP Ali Rifqi Mubarok menyebut sebanyak 4.546 pengendara dikenai tilang, sementara 32.000 lainnya diberi teguran presisi karena melakukan pelanggaran ringan.
“Selama 14 hari operasi, ribuan pengendara harus kami tindak. Yang kami tilang mencapai 4.546,” ungkap Ali, Selasa (2/12).
Dari ribuan sanksi tilang tersebut, ETLE mobile mencatat angka tertinggi dengan 4.071 pelanggar. Disusul 436 pelanggar ditindak secara manual, dan 39 pelanggaran terekam ETLE statis.
Data ini menunjukkan bahwa pelanggar banyak terpantau ketika berkendara di jalan raya, terutama saat petugas melakukan patroli mobile.
Mayoritas pelanggar berasal dari kelompok pengendara roda dua. Berbagai pelanggaran yang sering muncul antara lain:
melawan arus, tidak memakai helm, tidak memasang spion, melanggar rambu dan markah, penggunaan knalpot brong, TNKB palsu atau kendaraan tidak sesuai spektek
Sementara di kalangan pengemudi roda empat, pelanggaran yang paling sering ditemukan ialah tidak menggunakan sabuk pengaman.
Dari hasil penindakan, dua kelompok yang paling dominan melakukan pelanggaran adalah pelajar dan pekerja, yang menurut Ali memiliki mobilitas tinggi sehingga rawan melakukan pelanggaran kasat mata.
Selama operasi, pendekatan preemtif, preventif, edukatif tetap dijalankan, namun pelanggaran yang berpotensi menyebabkan kecelakaan tetap menjadi sasaran utama penindakan.
Beberapa ruas jalan yang menjadi fokus pengawasan berada di: koridor utara Sidoarjo, Jalan Raya Waru, wilayah Taman, Buduran dan kawasan Krian, Lokasi-lokasi tersebut dikenal sering terjadi pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.
Meski operasi telah berakhir, Satlantas Polresta Sidoarjo tetap mengingatkan masyarakat agar tidak menurunkan disiplin berlalu lintas.
“Ketertiban itu bukan soal operasi atau tidak, tapi bagaimana kita menjaga keselamatan diri sendiri,” tegas Ali. (*)






