KabarBaik.co, Surabaya — Pakar transportasi darat dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Prof. Hera Widyastuti, menegaskan bahwa perlintasan kereta api tidak sebidang merupakan solusi paling efektif untuk menekan angka kecelakaan. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden di sekitar Stasiun Bekasi Timur yang menimbulkan korban jiwa.
Menurut Hera, perlintasan sebidang menyimpan sejumlah kelemahan mendasar, terutama dari aspek geometrik jalan.
Posisi rel yang umumnya lebih tinggi dari permukaan jalan membuat kendaraan harus melintas dalam kondisi menanjak, sehingga meningkatkan risiko kesalahan teknis oleh pengemudi.
“Dalam kondisi menanjak, pengendara bisa panik dan salah memindahkan gigi. Ini berpotensi menyebabkan mesin kendaraan mati tepat di atas rel,” ujarnya di Surabaya, Jumat (1/5).
Tak hanya faktor teknis, Hera juga menyoroti tingginya ketergantungan perlintasan sebidang pada kedisiplinan pengguna jalan serta optimalnya fungsi palang pintu. Padahal, kereta api kategori heavy train mampu melaju hingga 110 kilometer per jam dan membutuhkan jarak pengereman yang panjang, sehingga tidak memungkinkan berhenti secara mendadak.
“Selama masih ada pertemuan langsung antara kendaraan dan kereta, perlintasan sebidang akan selalu menjadi titik rawan kecelakaan,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Hera mendorong percepatan pembangunan perlintasan tidak sebidang, baik dalam bentuk jalan layang (flyover) maupun jalan bawah tanah (underpass). Infrastruktur tersebut dinilai mampu memutus sepenuhnya interaksi langsung antara arus kendaraan bermotor dan kereta api.
“Jika ingin menghindari benturan langsung, maka perlintasan tidak sebidang adalah jawabannya,” katanya.
Urgensi pembangunan infrastruktur ini, lanjut Hera, semakin meningkat seiring rencana pengoperasian Surabaya Regional Railways Line yang akan menghubungkan Kota Surabaya dengan wilayah sekitarnya. Proyek tersebut diperkirakan akan meningkatkan frekuensi perjalanan kereta secara signifikan.
“Sudah saatnya kita mengawal transisi ini. Perlintasan sebidang, terutama di kawasan padat penduduk, harus segera dihapuskan demi keselamatan bersama,” tuturnya.







