Mahasiswa ITS Rancang SUBTRACK untuk Petakan Penurunan Tanah Guna Atasi Banjir

oleh -230 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 10 at 2.44.11 PM
Kelompok 9 Kemah Kerja Tematik DTG ITS saat malakukan wawancara dengan salah satu warga Kelurahan Tanjung Perak mengenai permasalahan yang terjadi di kawasan tersebut (Humas ITS)

KabarBaik.co, Surabaya – Mahasiswa Departemen Teknik Geomatika (DTG) ITS merancang SUBTRACK karena kepeduliannya terhadap fenomena penurunan tanah yang terjadi di kawasan pesisir perkotaan.

SUBTRACK adalah sebuah sistem pemetaan Web Geographic Information System (WebGIS) untuk memetakan zona prioritas infrastruktur permukiman yang terdampak banjir dan lalu lintas kendaraan muatan berat.

Ketua Kelompok 9 Kemah Kerja Tematik DTG Jalesveva Ananda Khozin menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tanah. Seperti di Kelurahan Tanjung Perak, Surabaya terjadi penurunan tanah yang dipengaruhi oleh konsolidasi tanah akibat curah hujan serta tekanan mekanis dari lalu lintas kendaraan bermuatan berat.

“Dari data InSAR, laju penurunan tanah di Kota Surabaya mencapai sekitar 6,1 milimeter per tahun terkonsentrasi di area barat dan utara,” ungkap mahasiswa yg kerap disapa Veva ini dalam keterangannya, Kamis (11/6).

Proses pengolahan data dimulai dengan pemanfaatan citra deformasi permukaan tanah dari satelit Sentinel-1 yang membawa sensor Synthetic Aperture Radar (SAR) C-band. Satelit ini dapat mengukur deformasi permukaan hingga skala milimeter di berbagai kondisi cuaca dan waktu pengamatan.

Selanjutnya, analisis deret waktu deformasi periode 2016-2025 dilakukan menggunakan perangkat lunak LiCSBAS dengan metode Small Baseline Subset (SBAS) yang memanfaatkan interferogram dari portal LiCSAR.

Selanjutnya, pemodelan banjir juga dilakukan secara dua dimensi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Data curah hujan yang dimasukkan ke dalam perangkat lunak bersumber dari BMKG, sedangkan data elevasi permukaan diperoleh dari Digital Surface Model (DSM) hasil Light Detection and Ranging (LiDAR).

Selain data sekunder tersebut, pencacahan jumlah kendaraan berat yang melintas di area Kelurahan Tanjung Perak juga dilakukan secara langsung di lapangan.

“Pengambilan data jumlah kendaraan dilakukan dalam dua jam per hari selama tujuh hari,” paparnya.

Sebelum dibuat peta zona prioritas, seluruh data yang telah terakumulasi diintegrasikan melalui proses weighted overlay dan Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan ArcGIS Pro. Keluaran akhir dari penelitian ini berupa tiga produk utama.

Meliputi peta laju subsidens Kota Surabaya, peta risiko banjir Kelurahan Tanjung Perak dan aplikasi peta interaktif berbasis WebGIS untuk menentukan daerah mana yang menjadi prioritas penanganan infrastruktur permukiman.

Dengan inovasi yang dikembangkan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada terhadap risiko penurunan tanah dan banjir di lingkungan sekitarnya. Veva dan tim berharap peta zona prioritas ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan penanganan infrastruktur yang lebih tepat sasaran di Kelurahan Tanjung Perak.

“Rekomendasi yang bisa dilakukan seperti perbaikan sistem drainase dan penguatan infrastruktur jalan pada zona dengan laju subsidens tinggi,” ujarnya.

Inovasi yang dicetuskan oleh mahasiswa ITS ini mempercepat ketercapaian sasaran dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain manfaatnya untuk penanggulangan banjir, inovasi yang dibawakan juga mewujudkan SDGs ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.