KabarBaik.co – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah mendapat beragam respons dari lembaga pendidikan di Jombang. Yayasan Roushon Fikr secara tegas memilih untuk tidak ikut serta dalam program tersebut.
Ketua Yayasan Roushon Fikr, Didin A. Sholahuddin atau yang akrab disapa Gus Didin, menjelaskan bahwa keputusan itu bukan bentuk penolakan terhadap niat baik pemerintah, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sekolah-sekolah yang lebih membutuhkan bantuan.
“Roushon Fikr sudah punya sistem dapur sendiri dengan 17 tenaga dapur yang setiap hari menyiapkan sekitar 1.300 porsi. Kalau kami ikut MBG, itu bisa mengorbankan pekerja yang sudah lama bersama kami,” kata Gus Didin dalam keteranganya Jumat (26/9).
Ia menyebut bahwa yayasan yang dipimpinnya telah mampu mencukupi kebutuhan konsumsi siswa secara mandiri tanpa bantuan subsidi dari pemerintah.
Karena itu, menurutnya, lebih tepat jika MBG difokuskan untuk sekolah-sekolah di wilayah yang mengalami keterbatasan fasilitas maupun pembiayaan.
“Kalau kami ikut menerima, justru terasa tidak pantas. Ada banyak anak-anak di desa-desa yang lebih layak menjadi prioritas,” tegasnya.
Gus Didin juga berharap agar mekanisme distribusi program MBG tidak hanya mengacu pada kesiapan teknis sekolah, tetapi disusun berdasarkan data kemiskinan yang dimiliki oleh Pemkab Jombang. Hal ini dinilai penting agar sasaran program benar-benar tepat dan adil.
“Pemkab Jombang punya data akurat terkait desa-desa dengan tingkat kemiskinan tinggi. Itu yang seharusnya jadi pijakan penentuan skala prioritas penerima MBG,” ujarnya.
Meski menolak dari awal, pihak yayasan menyatakan tetap membuka diri jika nantinya program MBG tetap ingin disalurkan di tahap akhir.
Namun, Gus Didin menegaskan bahwa prioritas utama tetap harus diberikan kepada siswa-siswa yang benar-benar membutuhkan. (*)






