KabarBaik.co, Surabaya – Perubahan gaya hidup Warga Jatim turut mengubah pola konsumsi. Kafe, kedai, hingga warung kini tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga berkembang menjadi ruang bekerja, berkumpul, sekaligus pusat konsumsi makanan dan minuman.
Temuan tersebut terungkap dalam hasil riset Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) yang dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pola Hidup Sehat dan Perilaku Konsumsi Masyarakat Jawa Timur di Surabaya, Selasa (30/6). Penelitian ini melibatkan 437 responden dari berbagai daerah di Jawa Timur dan dihadiri unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, serta organisasi masyarakat.
Sekretaris Yagitu, Nuryadi, mengatakan riset dilakukan untuk memotret perubahan gaya hidup generasi muda di tengah pola kerja yang semakin dinamis. Menurutnya, kesehatan menjadi fondasi utama dalam menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Anak muda adalah sumber daya pembangunan. Generasi Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa generasi yang sehat. Dari kesehatan itulah kecerdasan dan produktivitas dapat tumbuh,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas masyarakat sebenarnya telah memahami pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Namun, kesadaran tersebut belum sepenuhnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Nuryadi, hambatan terbesar bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada konsistensi menjalankan kebiasaan sehat. Faktor keterbatasan waktu, biaya, hingga lingkungan sosial dinilai masih menjadi kendala.
Di sisi lain, riset juga menemukan budaya nongkrong dan tren work from cafe ikut membentuk pola konsumsi baru. Sebanyak 56 persen responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan maupun minuman olahan di kafe, kedai, atau warung. Sementara minuman yang paling banyak dipilih adalah teh dan kopi.
Ia menilai fenomena tersebut membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi karena mendorong berkembangnya sektor usaha kuliner. Namun, meningkatnya konsumsi minuman berpemanis juga menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat.
“Ekonomi tetap harus tumbuh, tetapi masyarakat juga perlu tetap sehat. Di sinilah diperlukan keseimbangan,” katanya.
Penelitian itu juga mencatat 41,2 persen responden mengonsumsi makanan dan minuman manis karena menyukai rasanya. Sebanyak 23,1 persen menjadikannya sebagai penambah energi, sedangkan 14,9 persen dipengaruhi faktor budaya dan kebiasaan.
Adapun harapan terbesar masyarakat kepada pemerintah adalah memperkuat edukasi dan kampanye hidup sehat yang dipilih 33 persen responden. Selain itu, masyarakat juga menginginkan penambahan fasilitas olahraga publik serta akses yang lebih mudah terhadap pangan sehat.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai penyusunan kebijakan kesehatan perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kita perlu mencari titik temu antara berkembangnya dunia usaha dan perlindungan kesehatan masyarakat. Solusi yang diambil juga harus disesuaikan dengan kondisi dan kearifan lokal,” ujarnya.
Emil menambahkan setelah pandemi COVID-19, tantangan kesehatan bergeser pada meningkatnya penyakit tidak menular yang dipengaruhi gaya hidup, seperti kurang aktivitas fisik, kebiasaan duduk terlalu lama, hingga tingginya penggunaan gawai.
Koordinator Litbang Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Timur, Wiwik Winarsih, mengapresiasi penelitian tersebut karena mampu menggambarkan kesenjangan antara pengetahuan masyarakat dengan praktik hidup sehat.
Ia mengingatkan bahwa kasus obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Menurutnya, kondisi tersebut perlu ditangani bersama melalui edukasi dan perubahan kebiasaan konsumsi.
Sementara itu, akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Irfan, menilai edukasi kesehatan perlu lebih membumi dan mudah diterapkan masyarakat.
Ia mencontohkan langkah sederhana seperti memilih minuman dengan kadar gula lebih rendah, mengganti satu minuman manis setiap hari dengan air putih, hingga membiasakan membaca informasi kandungan gula pada kemasan.
Selain itu, Irfan mendorong agar upaya membangun perilaku hidup sehat tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga menyasar ruang-ruang konsumsi masyarakat seperti kafe, warung, minimarket, kantin, hingga tempat kerja.
Menurutnya, pelaku usaha dapat berperan dengan menyediakan pilihan menu yang lebih sehat sehingga pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Melalui FGD tersebut, Yagitu berharap hasil riset tidak berhenti sebagai kajian akademis semata, melainkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih sehat tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. (*)






