Delegasi 16 Negara Belajar Praktik Pertanian dan Kehutanan Berkelanjutan di Banyuwangi

oleh -369 Dilihat
IMG 20260625 WA0113
Bupati Banyuwangi, Ipul foto bersama 36 delegasi dari 16 negara. (Foto: Muhammad Ikhwan)

KabarBaik.co, Banyuwangi – Sebanyak 36 delegasi dari 16 negara mempelajari praktik pengelolaan pertanian, perkebunan, dan industri kayu berkelanjutan di Banyuwangi melalui program Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 24–27 Juni 2026 itu, merupakan kolaborasi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University. Program tersebut didanai hibah dari Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI).

Delegasi yang hadir berasal dari Argentina, Brazil, Guatemala, Bolivia, Colombia, Ecuador, Mexico, Ghana, Honduras, Dominican Republic, Nigeria, Saint Lucia, Pantai Gading, Papua New Guinea, Malaysia, dan Thailand.

Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kemlu RI Erma Rheindrayani mengatakan, peserta kegiatan berasal dari unsur pemerintah, akademisi, diplomat, hingga pelaku usaha yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor pertanian dan perkebunan berkelanjutan, khususnya industri pengolahan kayu.

“Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya. Pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao,” kata Erma saat diterima Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Banyuwangi, Rabu malam (24/6).

Kepala CTSS IPB University Prof. Damayanti Buchori menjelaskan, program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas negara-negara peserta melalui pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global.

Selama kegiatan, para delegasi mengikuti pembelajaran di Jakarta dan Bogor, serta melakukan kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk melihat langsung praktik pengelolaan kayu dan industri kayu di Indonesia.

Salah satu fokus pembelajaran adalah penerapan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), sebuah instrumen nasional untuk memastikan legalitas, ketertelusuran, dan keberlanjutan produk kayu Indonesia. “Banyuwangi memberikan ruang yang baik untuk melihat praktik lapangan, teknologi, dan perkembangan sektor timber berkelanjutan di Indonesia,” ujar Damayanti.

Salah satu delegasi Argentina, Facundo Gonzalez, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan belajar mengenai pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di Indonesia. “Ini suatu kehormatan bisa berada di sini. Kami berharap dapat belajar banyak dari pengalaman Indonesia dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan,” katanya.

Sementara delegasi Ghana, Ophilious Lambog dari Timber Industry Development Division, Forestry Commission Ghana, menilai kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antarnegara sekaligus mempelajari praktik terbaik sektor kehutanan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani memaparkan potensi pertanian, perkebunan, dan kehutanan Banyuwangi. Menurutnya, keberadaan tiga taman nasional di sekitar Banyuwangi, yakni Alas Purwo, Meru Betiri, dan Baluran, menjadi modal penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Ipuk mengatakan Banyuwangi terus mengembangkan sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.

“Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, kelapa, dan produk perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor. Semoga lewat forum ini bisa membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” kata Ipuk. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.