KabarBaik.co – Anggota DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, menyoroti maraknya anak-anak muda yang terjerumus ke dunia hiburan malam.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya disebabkan lemahnya pengawasan, tetapi juga dipengaruhi faktor ekonomi dan peran orang tua.
Menurutnya, aturan batas usia pengunjung tempat hiburan malam sudah jelas. “Aturan usia sebenarnya sudah ada, minimal 18 tahun, bahkan untuk jenis hiburan tertentu ditetapkan 21 tahun. Namun fakta di lapangan masih berbeda, karena pelanggaran tetap terjadi,” ujar dr. Zuhrotul Mar’ah saat di temui di ruang pribadinya. Senin (15/12).
Politisi yang dikenal ramah ini menegaskan para pengusaha hiburan malam wajib mematuhi ketentuan tersebut. Jika aturan dilanggar, maka dampaknya bukan hanya pada anak, tetapi juga pada masa depan generasi muda.
“Kalau aturan sudah ada, seharusnya dipatuhi. Seketat apa pun pengawasan dilakukan, kalau ada pelanggaran yang ditutup-tutupi, suatu saat pasti akan mencuat,” tegasnya.
dr. Zuhrotul Mar’ah menilai, persoalan ini kerap menjadi kompleks ketika kondisi ekonomi keluarga ikut berperan. Dalam beberapa kasus, anak justru didorong bekerja oleh orang tua demi membantu perekonomian keluarga.
“Orang tua jangan sampai mengeksploitasi anak demi keuntungan instan. Pendidikan harus tetap menjadi prioritas karena manfaatnya jauh lebih besar untuk masa depan anak,” katanya.
Politisi dari Partai Amanat Nasional ini menambahkan, masih banyak alternatif pekerjaan yang lebih aman dan sesuai usia anak, seperti berjualan daring, bekerja paruh waktu yang tidak sampai larut malam, atau kegiatan produktif lainnya.
Selain peran orang tua, ia juga mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk menghadirkan program pemberdayaan dan event edukatif bagi anak-anak muda, agar potensi mereka bisa tersalurkan secara positif dan berpenghasilan halal.
Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan di tengah gaya hidup konsumtif yang dipengaruhi media sosial.
“Kalau bisa memilah kebutuhan primer, sekunder, dan tersier, tekanan ekonomi bisa ditekan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan anak-anak yang terlibat dunia hiburan malam tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada anak. “Kalau anak-anak hari ini dianggap nakal, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Ini tanggung jawab bersama orang tua, masyarakat, dan pemerintah,” pungkasnya.(*)






