EBITDA MDKA Tumbuh 33 Persen pada 9M 2025, Proyek Strategis Mulai Masuk Fase Operasional

oleh -42 Dilihat
IMG 20251219 WA0008
Perseroan berhasil membukukan pertumbuhan EBITDA yang signifikan seiring kemajuan sejumlah proyek strategis yang mulai memasuki tahap operasional.

KabarBaik.co – PT Merdeka Copper Gold Tbk (BEI: MDKA) mencatatkan kinerja laba yang solid sepanjang sembilan bulan pertama 2025, di tengah dinamika industri dan tantangan operasional. Perseroan berhasil membukukan pertumbuhan EBITDA yang signifikan seiring kemajuan sejumlah proyek strategis yang mulai memasuki tahap operasional.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan dan operasional kuartal ketiga dan sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2025 (9M 2025), Merdeka membukukan pendapatan sebesar US$1,28 miliar atau turun 23 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Meski demikian, Perseroan mampu mencatatkan EBITDA sebesar US$295 juta, meningkat 33 persen YoY.

Pertumbuhan EBITDA tersebut ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata emas, peningkatan margin emas hingga 59 persen, serta penerapan efisiensi biaya secara konsisten di seluruh rantai nilai nikel Merdeka yang terintegrasi. Langkah ini mencerminkan penguatan disiplin operasional dan kendali biaya di seluruh lini usaha Perseroan.

Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk, Albert Saputro, mengatakan bahwa kinerja 9M 2025 menunjukkan ketahanan portofolio Merdeka yang terdiversifikasi, sekaligus komitmen perusahaan terhadap profitabilitas dan kualitas eksekusi.

“Kinerja sembilan bulan 2025 mencerminkan kekuatan portofolio Merdeka serta fokus berkelanjutan kami pada profitabilitas. Meski menghadapi tantangan operasional dan penurunan kontribusi pendapatan dari segmen pengolahan nikel, Merdeka tetap mampu mencatatkan pertumbuhan EBITDA sebesar 33 persen, didukung oleh harga emas yang lebih tinggi serta perbaikan margin di sebagian besar operasi sebagai hasil dari disiplin pengendalian biaya,” ujar Albert, Jumat (19/12).

Di sisi pengembangan proyek, Merdeka mencatat kemajuan penting pada Tambang Emas Pani yang dikembangkan melalui PT Merdeka Gold Resources Tbk (BEI: EMAS).

Proyek ini telah memasuki tahap penumpukan bijih (ore stacking), sekaligus menegaskan komitmen EMAS untuk memulai produksi emas pada kuartal pertama 2026 (1Q26) sesuai rencana.
EMAS juga mengonfirmasi bahwa laju penumpukan bijih pada fasilitas heap leach serta kapasitas pabrik pengolahan emas berpotensi ditingkatkan melampaui panduan sebelumnya sebesar 7 juta ton.

Peningkatan ini membuka peluang kenaikan produksi emas tahunan. Selain itu, Perseroan menargetkan percepatan pengembangan proyek Carbon-in-Leach (CIL) Pani, dengan pekerjaan konstruksi awal direncanakan dimulai pada 1Q26.

Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang ditargetkan rampung pada 1Q26 kini disusun dengan basis kapasitas CIL sebesar 12 juta ton, menggantikan rencana awal yang memulai operasi pada kapasitas 7,5 juta ton dan meningkat secara bertahap. Pendekatan ini memungkinkan kapasitas pengolahan yang lebih besar dicapai lebih awal, sekaligus mendukung percepatan pencapaian target produksi puncak Tambang Emas Pani sebesar 500.000 ounce emas per tahun.
Pada 2026, Tambang Emas Tujuh Bukit dan Tambang Emas Pani diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi emas dan arus kas Merdeka.

Sementara itu, di segmen nikel yang dijalankan melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (IDX: MBMA), kinerja operasional tetap menunjukkan hasil yang solid. Produksi tambang nikel SCM (Sulawesi Cahaya Mineral) mencatat peningkatan signifikan, dengan output saprolit tumbuh 89 persen dan limonit naik 51 persen. Meski produksi Nickel Pig Iron (NPI) tercatat lebih rendah, Perseroan tetap mampu mempertahankan tingkat margin yang sehat.

Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) juga berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh di fasilitas pirit, asam, logam klorida, serta pabrik katoda tembaga pada akhir 2025.

Dalam pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL), PT ESG New Energy Material mencatat peningkatan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) menjadi 7.181 ton dan penjualan sebesar 7.554 ton pada kuartal ketiga 2025. Sementara itu, pembangunan pabrik HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP terus berjalan sesuai jadwal, dengan komisioning lini produksi pertama ditargetkan pada pertengahan 2026.

Menatap ke depan, manajemen menegaskan komitmen Merdeka untuk terus menjaga disiplin alokasi modal, memperkuat keunggulan operasional, serta memastikan penyelesaian proyek secara tepat waktu.

“Dengan posisi likuiditas yang kuat dan visibilitas pertumbuhan produksi jangka pendek yang jelas, kami meyakini Merdeka berada pada posisi yang solid untuk menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Albert.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.