Gandrung Seblang Subuh di Selat Bali, Ritual Pengharap Keselamatan di Jalur Penyeberangan

oleh -245 Dilihat
Penari gandrung menari di atas kapal yang tengah berlayar di Selat Bali.
Penari gandrung menari di atas kapal yang tengah berlayar di Selat Bali.

KabarBaik.co, Banyuwangi – Pemerintah Desa Ketapang bersama sejumlah stakeholder pelayaran di kawasan Pelabuhan Ketapang menggelar ritual Sedekah Segoro di tengah Selat Bali, Selasa (16/6). Ritual dikemas dengan berbagai pertunjukan seni dan tradisi sebagai bentuk rasa syukur sekaligus menjaga kearifan lokal.

Salah satu rangkaian ritual adalah Gandrung Seblang-seblang Subuh yang digelar di atas kapal Dharma Rucitra di tengah perairan Selat Bali. Ritual dimulai menjelang subuh. Ketika itu penari mulai menari dan berakhir ketika matahari sudah cukup terik.

Kepala Desa Ketapang, Slamet Utomo mengatakan, pelaksanaan Sedekah Segoro sama seperti tradisi petik laut di daerah lainnya. Namun di ketapang, digelar dan disesuaikan dengan kearifan lokal yang menggabungkan unsur budaya dan doa bersama.

“Jadi ini semacam petik laut yang kemudian kami kemas dengan Sedekah Segoro. Tujuannya untuk ikhtiar berharap keselamatan dan keberkahan pada tahun baru islam. Terutama di jalur penyeberangan ini,” kata Slamet.

Slamet menyebut, sedekah segoro memang telah menjadi agenda tahunan. Namun sebelumnya kegiatan dikemas sederhana.

“Dulu petik laut hanya berupa rangkaian lomba perahu layar. Sekarang kami kemas lebih lengkap dengan melibatkan semua stakeholder,” jelasnya.

Salah satu yang baru adalah, Gandrung Seblang-seblang Subuh. Slamet mengaku kehadiran tarian khas Banyuwangi itu merupakan saran dari para leluhur.

“Tujuannya agar ada kearifan lokal. Sangat tidak bijak kalau kita meninggalkan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan para leluhur. Kita sudah banyak terlena dengan kemajuan, tetapi jangan sampai meninggalkan budaya,” ujarnya.

“Setiap tahun kami harap bisa menggelar persis semacam ini,” imbuhnya.

Selain Gandrung Subuh, rangkaian Sedekah Segoro juga diisi dengan kegiatan mamaca, mocoan Lontar Yusuf, hingga pertunjukan kesenian jaranan dan gandrung pada sore hari.

Dalam ritual unsur masyarakat lintas agama turut dilibatkan. Mereka melakukan doa bersama diatas kapal Pratita dan melakukan tabur bunga di Selat Bali.

Sementara itu, budayawan Banyuwangi, Subari Sufyan menjelaskan, tradisi yang digelar tersebut memiliki latar sejarah panjang yang berkaitan dengan hubungan masyarakat Banyuwangi dan Bali sejak masa Kerajaan Blambangan.

Ia menyebut, perjalanan masyarakat melintasi Selat Bali sudah berlangsung sejak dahulu, ketika warga Banyuwangi dan Bali melakukan aktivitas perdagangan menggunakan kapal-kapal kecil. Dari perjalanan tersebut, masyarakat kemudian menangkap nilai persaudaraan dan hubungan antarwilayah yang sempat memiliki catatan konflik sejarah.

“Dulu ada perjalanan antara Banyuwangi dan Bali. Masyarakat Banyuwangi membawa beras ke Bali, kemudian pulang membawa buah untuk dijual. Dari situ kita menangkap bagaimana selat ini bukan hanya pemisah, tetapi juga penghubung masyarakat,” kata Subari.

Makanya sedekah segoro ini berbeda dengan petik laut pada umumnya. Pihaknya tidak ingin menggunakan prosesi pelarungan kepala atau bagian tubuh hewan, melainkan mengedepankan doa lintas agama sebagai bentuk penghormatan terhadap laut.

“Ini bukan mencari rezeki dari laut, tetapi memohon keselamatan bagi kapal-kapal dan masyarakat yang melintas. Karena itu doa kami kemas secara lintas agama,” jelasnya.

Terkait Gandrung Seblang-seblang Subuh, Subari menjelaskan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar pertunjukan tari. Pelaksanaan menjelang waktu subuh memiliki makna khusus, yakni sebagai waktu untuk memohon ampunan dan keselamatan.

“Kalau hanya gandrung, itu sekadar pertunjukan. Tetapi kalau dilakukan sebelum subuh hingga subuh, ada unsur ritualnya. Penari memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan ampunan untuk masyarakat, lingkungan, dan semua yang terlibat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam ritual tersebut terdapat sejumlah gending atau tembang yang memiliki filosofi masing-masing. Beberapa di antaranya seperti Ukir Kawin, Seblang-seblang Subuh, hingga doa tobat.
Subari menyebut, pelaksanaan Gandrung Seblang-seblang Subuh di atas kapal baru pertama kali dilakukan.

Hal itu dipilih karena tujuan utama ritual adalah mendoakan keselamatan bagi seluruh pengguna jalur penyeberangan Banyuwangi–Bali.

“Belum pernah ada yang dilakukan di atas kapal seperti ini. Ini pertama kali, karena kami ingin memohon keselamatan bagi masyarakat yang berangkat dari Banyuwangi menuju Bali maupun sebaliknya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.