KabarBaik.co, Bojonegoro– Peringatan Hari Kartini di Bojonegoro tak hanya diisi dengan seremoni saja. Sejumlah organisasi perempuan dan mahasiswa justru turun ke jalan, menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Bojonegoro untuk menyuarakan berbagai persoalan yang masih membelit perempuan hingga hari ini.
Aksi yang diinisiasi oleh KPI Cabang Bojonegoro, AJI Bojonegoro, serta DPK GMNI dari Universitas Bojonegoro dan Unugiri Bojonegoro ini mengusung tema ‘Kartini dan Surat Suara Perempuan Bojonegoro’. Tema tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti pada peringatan, tetapi harus diwujudkan dalam perubahan nyata.
Dalam orasinya, salah satu perwakilan massa, Yana, menegaskan bahwa sosok Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol tahunan.
“Kartini adalah tentang kesempatan. Kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak, akses kesehatan, dan terbebas dari kekerasan, baik fisik maupun psikis,” tegasnya di hadapan peserta aksi, Selasa (21/4).
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak dilakukan melalui perlawanan fisik, melainkan lewat tulisan dan gagasan. Surat-surat Kartini kepada sahabatnya di Eropa menjadi bukti bagaimana diplomasi intelektual mampu membuka jalan kesetaraan bagi perempuan Indonesia.
Yana membandingkan perjuangan Kartini dengan tokoh perempuan lain seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Martha Christina Tiahahu yang dikenal melalui perlawanan fisik. Menurutnya, Kartini hadir sebagai simbol perjuangan intelektual dan sosial yang relevansinya masih terasa hingga kini.
Meski begitu, para peserta aksi menilai perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai. Mereka menilai masih tingginya angka putus sekolah, perkawinan anak, hingga kekerasan terhadap perempuan.
Secara nasional, angka pernikahan dini memang menurun, namun masih tergolong tinggi di beberapa daerah. Di Bojonegoro sendiri, jumlah pengajuan dispensasi kawin tercatat menurun dari 448 perkara pada 2023 menjadi 325 perkara pada 2025, penurunan yang dinilai belum signifikan.
“Ini menunjukkan bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Masih banyak perempuan yang menghadapi diskriminasi, kekerasan, hingga tekanan sosial,” imbuh Yana.
Selain itu, isu perundungan (bullying) dan fenomena saling menjatuhkan antarperempuan juga menjadi perhatian. Massa aksi menilai peringatan Hari Kartini selama ini kerap terjebak pada simbolisme, seperti penggunaan kebaya, tanpa menggali makna perjuangan yang lebih mendalam.
Padahal, esensi utama Hari Kartini adalah mendorong perempuan untuk berdaya, memiliki akses yang setara, serta terbebas dari segala bentuk diskriminasi.
Aksi damai ini pun ditutup dengan pesan kuat bagi seluruh perempuan Indonesia agar terus percaya pada kemampuan diri sendiri.
“Ini adalah surat untuk seluruh perempuan Indonesia. Kamu mampu, jika kamu berpikir mampu,” pungkas Yana. (*)






