Identifikasi Wilayah Berisiko DBD Kini Lebih Mudah Berkat AERIS Hasil Pengembangan Mahasiswa ITS

oleh -134 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 09 at 3.15.55 PM
Salah satu mahasiswa sedang mencoba mengakses WebGIS AERIS, rancangan tim mahasiswa ITS, pada tautan aeris.geowebgis.id (Humas ITS)

KabarBaik.co, Surabaya – Lima kecamatan di Surabaya diprediksi menjadi zona risiko tinggi demam berdarah dengue (DBD) 2026. Lima kecamatan itu adalah Tambaksari, Rungkut, Tandes, Sawahan, dan Semampir.

Prediksi tersebut dibuat berdasarkan Analisis Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS) yang memanfaatkan Web Geographic Information System (WebGIS) dan machine learning. Inovasi tesebut dikembangkan mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Ketua tim pengembang AERIS Rifqi Pangestu Wiguna menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi kawasan dengan potensi peningkatan kasus DBD.

“Melalui inovasi ini, kami berupaya menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif,” terang Rifqi dalam keterangannya, Rabu (10/6).

Untuk menghasilkan prediksi tersebut, Rifqi dan tim mengolah data kasus DBD Kota Surabaya tahun 2019–2024 dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Data kemudian dikombinasikan dengan berbagai variabel seperti curah hujan, topografi, kepadatan penduduk, sebaran titik genangan, dan enam variabel lain.

Rifqi menilai semakin banyak faktor relevan yang diintegrasikan ke dalam model, semakin baik pula kemampuan AERIS dalam memprediksi risiko DBD.

Data tersebut diproses menggunakan empat metode pemodelan machine learning. Pemodelan tersebut antara lain Random Forest, XGBoost, Support Vector Regression, dan Regresi Binomial Negatif.

“Kombinasi variabel ini memungkinkan sistem menyajikan informasi risiko sebagai pendukung pengambilan keputusan berbasis data,” papar mahasiswa angkatan 2023 tersebut.

Hasil analisis AERIS memperlihatkan bahwa risiko DBD terkonsentrasi pada wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Selain itu, keberadaan genangan air menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam model prediksi yang dikembangkan timnya.

“Oleh sebab itu, pengelolaan genangan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi langkah yang relevan,” ungkap Rifqi.

Rifqi menyampaikan bahwa keandalan model diuji menggunakan data aktual kasus DBD pada Maret 2025 yang tidak diikutsertakan dalam proses pelatihan data. Hasilnya, model berhasil mengidentifikasi 9 dari 10 kecamatan dengan kasus tertinggi secara tepat. Adapun, Bubutan menjadi kecamatan yang tidak teridentifikasi diduga karena faktor lokal sesaat seperti kluster wabah.

Selain menghasilkan prediksi risiko, AERIS juga menyajikan informasi dalam bentuk peta interaktif berbasis WebGIS. Pengguna dapat mengakses visualisasi persebaran kasus DBD, curah hujan, fasilitas kesehatan, hingga hasil prediksi risiko penyakit pada tingkat kecamatan melalui tautan aeris.geowebgis.id.

“Kami berharap AERIS menjadi salah satu alat pendukung pengambilan keputusan yang berbasis data,” tutupnya.

Pengembangan AERIS ini sejalan dengan komitmen ITS untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Antara lain pada poin ke-3 mengenai Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan model prediktif DBD. Di sisi lain, integrasi analisis kerawanan genangan ke dalam peta risiko penyakit turut mendukung poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.