KabarBaik.co, Surabaya – Sebuah halte dibangun swadaya oleh warga atas nama Forum Diskusi Transportasi Surabaya (FDTS). Halte itu dibangun di kawasan Universitas Airlangga (Unair) B, atau tepat di depan Airlangga Wellness Center.
Halte dadakan itu dibangun swadaya lengkap dengan tempat duduk dan atap peneduh demi kenyamanan pengguna transportasi umum. Halte itu dibangun dan selesai pada Senin (29/6).
Halte kecil itu dibangun karena rasa kesal dan kecewa yang menumpuk lantaran tidak ada halte yang dibangun di kawasan tersebut. Yang ada hanyalah rambu pemberhentian bus.
Vesa, salah satu anggota FDTS di laman akun instagram @fdts menuturkan bahwa inisiatif ini muncul karena masyarakat sudah terlalu lama menunggu kepedulian Pemkot Surabaya yang tak berujung. Menurutnya, fasilitas dasar seperti tempat duduk dan peneduh seharusnya sudah tersedia, bukan harus dibuat oleh warga.
“Kalau Pemkotnya udah kerja dengan bener, enggak ada itu kita bikin wayfinding, enggak ada kita bikin kursi, enggak ada kita bikin-bikin sesuatu untuk Pemkot gitu loh. Kesuwen ngenteni Pemkot,” gerutu Vesa.
Rambu pemberhentian bus, kata Vesa, dirasa sangat tidak manusiawi mengingat jeda kedatangan bus yang cukup lama, rata-rata di atas 15 menit. Tidak ada peneduh dan juga tidak ada tempat duduk.
“Enggak manusiawi kalau disuruh nunggu sambil berdiri lebih dari 15 menit. Kita yang manusia biasa, normal itu saja berat kan? Apalagi lansia, apalagi teman-teman difabel disabilitas,” tambahnya.
Dibuat Patungan, Biaya Sangat Murah
Dalam pembuatan halte ini, FDTS memanfaatkan bahan-bahan sederhana namun fungsional. Mereka memesan kursi kayu dan mengecatnya sendiri, sementara atap dibuat dari pipa air dan spanduk bekas.
Seluruh biaya pembuatan tiga unit kursi lengkap peneduh ini tidak bersumber dari anggaran negara, melainkan dari kas komunitas dan patungan sukarela para relawan dan simpatisan.
“Ini enggak sampai Rp 1 juta loh ini BTW. Ya, dari kasnya FDTS sendiri, uang pribadinya teman-teman sendiri. Bahkan kita pernah bikin yang proper pakai besi juga enggak sampai Rp 7 juta. Untuk Pemkot sangat murah lah ya,” jelas Vesa.
Ia menegaskan bahwa anggaran adalah cerminan nyata dari political will atau kemauan politik para pemimpin. Jika memang ada kemauan untuk memperbaiki transportasi, anggaran pasti akan tersedia.
Saat ini, di rambu pemberhentian bus yang disediakan pemerintah, warga terpaksa duduk di tembok pagar bangunan sekitar karena tidak adanya bangku. Halte buatan FDTS sendiri dilengkapi dengan papan informasi rute atau wayfinding agar memudahkan penumpang.
Pengguna: Sangat Membantu, Harap Pemkot Segera Tindak Lanjuti
Salah satu pengguna setia Bus Suroboyo yang juga mahasiswi Unair, Rania, mengapresiasi langkah yang diambil FDTS. Meski sederhana, keberadaan halte dadakan ini sangat terasa manfaatnya.
“Terima kasih sudah membuat halte bus dengan menggunakan biaya patungan. Meskipun sederhana, halte ini sangat berguna terutama buat masyarakat yang sedang menunggu bus,” ujar Rania, Kamis (9/7).
Ia pun berharap Pemkot Surabaya segera turun tangan membangun fasilitas yang layak secara permanen. Pasalnya, pengguna bus tidak hanya mahasiswa, tetapi juga lansia serta ibu-ibu yang membawa anak kecil.
“Saya berharap pemkot Surabaya untuk segera membangun halte yang layak, apalagi pengguna bus tidak hanya para mahasiswa saja tapi banyak masyarakat yang juga menggunakan terutama para lansia dan ibu bersama anaknya,” pungkasnya.
Perlu diketahui, ini bukan kali pertama FDTS melakukan aksi serupa. Beberapa waktu lalu, mereka juga telah membuat halte serupa di area sekitar Pakuwon Mall. Bagi mereka, jika pemerintah belum bergerak, warga yang akan mengurusnya sendiri.
Vesa berpesan seharusnya pemerintah lebih sering turun lapangan melihat kondisi riil, terutama di area universitas yang seharusnya bisa menjadi contoh fasilitas yang lebih memadai. (*)






