KabarBaik.co, Batu – Sedih, kebingungan, dan rasa putus asa menyelimuti para pedagang di kawasan Jalan Indragiri, Kota Batu. Sehari menjelang penutupan total akses untuk proyek pembangunan Simpang Empat Patih, para pedagang terpaksa membongkar lapak mereka sendiri tanpa mengetahui ke mana harus kembali berjualan.
Minggu (28/6), satu per satu bangunan semi permanen yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan mereka dibongkar menggunakan peralatan seadanya. Sebagian pedagang mengangkut material ke rumah masing-masing, sementara lainnya memilih menjual perlengkapan dagangan karena tidak memiliki tempat untuk menyimpannya.
Keputusan membongkar lapak dilakukan karena pemerintah menetapkan kawasan tersebut harus sudah steril mulai 1 Juli 2026 agar pekerjaan fisik proyek bisa segera dimulai. Namun hingga H-1 penutupan jalur, kepastian lokasi relokasi yang sejak awal diharapkan para pedagang belum juga diberikan.
Saat ditemui, Ketua Paguyuban Pedagang Indragiri, Samuel Wajib, mengaku kondisi para pedagang saat ini sangat memprihatinkan. Menurutnya, para pedagang bersedia membongkar lapak secara mandiri karena percaya akan dipindahkan ke lokasi sementara yang layak.
“Kami ini bingung, padahal teman-teman pedagang sudah membongkar lapaknya sendiri karena dulu dijanjikan ada relokasi. Ternyata di tandon air jelas tidak bisa karena izinnya ke PDAM. Lalu yang di Wastra Indah juga sudah disita kejaksaan,” ujarnya, Minggu (28/6).
Harapan untuk menempati lahan tandon air milik PDAM maupun kawasan Wastra Indah akhirnya pupus. Kedua lokasi tersebut dipastikan tidak dapat digunakan karena terkendala persoalan perizinan dan status hukum lahan.
Akibatnya, para pedagang kini harus menghadapi kenyataan pahit. Mereka bukan hanya kehilangan tempat berdagang, tetapi juga kehilangan sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Samuel mengatakan pedagang kecil menjadi kelompok yang paling terdampak. Penjual sate, gorengan, hingga pelaku usaha tambal ban kini terancam menganggur karena tidak memiliki modal untuk menyewa lokasi baru.
“Kalau yang punya uang ya bisa cari tempat sendiri. Tapi bagi pedagang kecil, kalau tidak ada tempat, ya terpaksa menganggur. Kami merasa sangat sakit, padahal dari total 28 orang, ada 17 pedagang aktif yang selama puluhan tahun selalu tertib membayar kontribusi ke pemerintah,” ungkapnya.
Ia menuturkan sebagian pedagang terpaksa membawa pulang material bongkaran ke rumah. Namun bagi mereka yang tidak memiliki lahan penyimpanan, pilihan yang tersisa hanya menaruh barang di tepi jalan atau menjual perlengkapan usaha kepada pengepul barang bekas dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya.
Samuel, yang juga harus kehilangan warung dan usaha tambal bannya, berharap Pemerintah Kota Batu tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memikirkan nasib masyarakat kecil yang terdampak langsung.
Meski pemerintah telah membantu menyediakan armada truk dan mobil pikap untuk mengangkut barang-barang pedagang ke rumah masing-masing, menurutnya bantuan tersebut belum menyentuh persoalan utama.
“Bantuan angkut memang kami terima, tetapi yang kami butuhkan sebenarnya adalah tempat untuk kembali berjualan. Kalau tidak ada relokasi, bagaimana kami mencari nafkah setelah ini,” ungkapnya.
Para pedagang pun berharap Wali Kota Batu segera turun tangan memberikan solusi konkret. Mereka meminta lokasi relokasi sementara agar belasan pedagang aktif yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan Simpang Empat Patih dapat kembali berusaha dan tidak kehilangan mata pencaharian akibat proyek. (*)






