KabarBaik.co, Surabaya – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, bertakziah ke rumah duka korban meninggal dunia akibat tercebur ke dalam galian proyek gorong-gorong di kawasan Margorejo. Kedatangan Eri dilakukan di rumah duka di Kawatan, Bubutan, Surabaya, pada Sabtu (13/6) malam.
Dalam takziah tersebut, Eri tidak hanya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, tetapi juga sekaligus bersilaturahmi dengan warga sekitar. Hal ini lantaran Eri mengaku pernah tinggal dan memiliki kenangan di kawasan tersebut.
Eri mengungkapkan bahwa korban meninggal, Laila Endriati, memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan dirinya. Eri mengaku bahwa almarhumah adalah sosok yang mengasuhnya sejak kecil.
“Saya turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya. Almarhumah ini adalah keluarga saya, yang mengasuh saya waktu kecil di Kawatan dulu,” ujar Eri.
Eri menjelaskan bahwa dirinya baru mengetahui kabar duka tersebut pada Sabtu pagi saat menerima tamu, tak lama setelah ia pulang dari ibadah haji dan masih dalam masa cuti. Mendengar kabar tersebut, Eri langsung menjadwalkan kunjungan takziah pada malam harinya.
“Saya baru pulang haji tadi malam dan posisi masih cuti. Pagi hari saat menerima tamu, keluarga mengabarkan Mbak Endri seda (meninggal dunia) karena kecelakaan di proyek Margorejo. Saya syok, yang meninggal ini masih keluarga saya. Beliau yang ngemong (mengasuh) saya dulu waktu kecil di sini,” ungkap Eri.
Selain menyambangi keluarga korban, kunjungan Eri sekaligus menjadi momen bersilaturahmi dengan warga sekitar, mengingat ia pernah tinggal dan memiliki kenangan di kawasan tersebut.
Eri dan keluarga juga memimpin doa untuk almarhumah serta keluarga yang ditinggalkan.
“Semoga segala amal perbuatan Mbak Endri semasa hidup, diterima di sisi Allah SWT,” ucap Eri.
Pada kesempatan itu, Eri kembali menuturkan kronologi kejadian yang dialami korban dan suaminya saat melintasi kawasan tersebut. Menurut Eri, korban tidak menyadari bahwa jalan yang dilaluinya merupakan area galian karena pengaman atau barrier yang terpasang dianggap tidak rapat, sehingga korban mengira jalan tersebut masih bisa dilewati.
“Jadi korban ini nggak tahu kalau yang dilewati adalah galian. Karena barriernya nggak rapat, jadi korban mengira kalau itu bisa dilewati,” katanya di sela-sela takziah.
Atas kejadian nahas tersebut, Eri menegaskan perlunya dilakukan evaluasi menyeluruh ke depannya oleh pihak proyek maupun dinas terkait terkait aspek keamanan di sekitar area galian.
“Bukan karena ini dulurku (saudaraku) terus aku nggak terima. Tapi karena saya juga menjaga orang Surabaya lainnya, supaya tidak mengalami hal yang sama,” tegasnya.
Dinas SDA dan BM Akan Tambah Pengamanan
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Hidayat Syah, membenarkan hal serupa. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan evaluasi pasca kejadian yang memakan korban jiwa tersebut.
“Betul, itu memang proyek untuk box culvert. Saat ini kami masih menunggu hasil kronologi resmi dari pihak kepolisian karena masih simpang siur,” tambahnya.
Ke depan, pihaknya berkomitmen akan memperketat pengamanan di area galian. Langkah yang akan diambil antara lain menambah water barrier serta penanda atau rambu yang lebih jelas di sekitar lokasi proyek.
“Selain itu, kami juga akan evaluasi pihak kontraktor yang mengerjakan proyek, termasuk pengawas lapangan,” tegasnya.
Sebagai informasi, insiden terjadi pada Jumat (12/6) malam di Jalan Margorejo Indah, tepatnya depan Plasa Marina, Kecamatan Wonocolo. Seorang lansia perempuan, LE, dilaporkan meninggal dunia di tempat setelah sepeda motor yang ditumpanginya jatuh ke dalam galian gorong-gorong. Sementara itu, suaminya, EP, mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. (*)






