KabarBaik.co – Tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh banyak perusahaan menjadi pukulan berat bagi para buruh. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman dan modal untuk usaha. Beruntung hal itu tidak dialami Yasib, warga Desa Pekoren, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, yang menjadi korban PHK pada 2015 silam.
Dengan kegigihan dan keuletan menjadi petani bunga sedap malam, Yasib akhirnya berhasil menguasai pasar bunga sedap malam di Jawa Timur dan Bali. Baginya, menjadi sukses seperti saat ini diawali dengan jerih payah yang tiada henti. Mulai dari satu petak kecil untuk bertani bunga sedap malam, hingga saat memiliki dua hektare lahan bunga sedap malam untuk memenuhi pasar yang cukup tinggi setiap harinya.
Menurut Yasib, saat ini bunga sedap malam yang dipasoknya setiap minggu mencapai 8 ribu batang. Dengan kebutuhan pasar dan kualitas A dan B dirinya harus bekerja keras merawat tanaman agar tidak mengecewakan pelanggan. “Yang saya jual ini great A dan B, setiap hari 1.500 hingga 2.000 batang dikirim ke berbagai pengepul di Jatim. Kita menanam dengan bibit terbaik,” jelas Yasib, Kamis (1/5).
Yasib menyebut harga jual yang dipatoknya mulai dari seribu hingga dua ribuan per batang. Selain dijual dengan dikirim ke pengepul bunga, juga melakukan penjualan secara online untuk wilayah Jawa Timur. “Harga kita ngikut pasar saja yang penting tidak rugi, paling murah seribu perbatang. Kalau lagi mahal bisa enam ribu untuk momen tertentu seperti hari raya,” ucapnya.
Yasib mengaku dengan bekerja sebagai petani yang kian hari semakin kecil persaingan, membuatnya semakin semangat. Apalagi kebutuhan pasar semakin tinggi terhadap bunga sedap malam yang memiliki bau wangi yang khas. “Sekarang para pemuda malas jadi petani takut kotor. Jadi saya lebih santai dan tetap jadi petani yang tanpa harus ada tekanan di pasar nantinya,” bebernya.
Dia mengaku keuntungan yang didapatnya sebagai petani bunga sedap malam terbilang lebih besar dibandingkan sebagai pegawai buruh pabrik. Waktu dan tenaga yang dikeluarkannya pun lebih ringan. “Keuntungan ya lumayan sekitar Rp 10 juta per bulan. Kerjanya pagi hari aja dengan dibantu 5 orang mulai panen hingga sortir,” tandas Yasib. (*)






