KabarBaik.co – Anik Fatul Fauziah hanya tertunduk lesu di Mapolres Kediri, Jumat (11/10). Perempuan berusia 44 tahun pemilik Toko Tiga Putra Krecek ini ditetapkan sebagai tersangka kasus keracunan massal jemaah Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Badas, pada 1 Oktober lalu.
AKBP Bimo Ariyanto, Kapolres Kediri mengatakan sosok Anik merupakan aktor utama kejadian yang menggemparkan di Kabupaten Kediri belakangan ini.
Sebab kelakuannya mengakibatkan hampir 155 jemaah mengalami keracunan saat menyantap jajan dan minuman yang disajikan dalam sebuah pengajian hingga membuat muntah, pusing dan terpaksa dilarikan ke sejumlah rumah sakit.
Dari hasil penyelidikan, Anik diduga menjual kembali makanan yang sudah rusak, kedaluwarsa, dan tidak layak konsumsi. Modusnya pun terbilang rapi dan licik.
Anik sengaja membersihkan jajan yang telah rusak dan kedaluwarsa, lalu menghapus tanggal kedaluwarsa asli dan diganti baru memakai alat cetak. Sehingga terlihat seperti jajan yang baru. Itu semua dilakukan hanya demi mencari keuntungan.
Tidak main-main, polisi bahkan berhasil mengamankan barang bukti hingga 30 truk. Untuk mempertanggungjawabkan kelakuanny, ia dikenai pasal berlapis dan terancam hukuman 15 tahun penjara.
“Kami telah menyita alat printer yang digunakan tersangka untuk memalsukan tanggal kedaluwarsa. Selain itu, seluruh barang yang ada di gudang dan toko tersangka juga telah kami sita, dengan total 30 truk barang bukti,” beber AKBP Bimo.
Menyikapi kejadian ini, AKBP Bimo mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap makanan yang di konsumsi serta bila menemukan makanan maupun minuman yang mencurigakan agar segera melaporkannya.
Sementara itu, Tito Veriyanto, Pengawas Farmasi Makanan Ahli Muda BPOM Kediri, mengatakan seluruh sempel yang di periksa rupanya mengandung bakteri Bacillus Cereus yang ditengarai dapat menyebabkan keracunan.
Efek dari bakteri itu bisa menimbulkan efek keracunan berupa mual, muntah, dan pusing tidak lebih dari 30 menit.
“Tetapi untuk hasil pastinya kita tunggu rilis dari BPOM Surabaya karena di Kediri alat untuk menguji sempelnya masih terbatas,” pungkasnya. (*)






