KabarBaik.co, Mojokerto – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran memilah sampah sejak dari rumah tangga. Langkah ini dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan Kota Mojokerto.
Wali kota yang akrab disapa Ning Ita itu menegaskan dengan luas wilayah Kota Mojokerto yang hanya sekitar 20 kilometer persegi, kebersihan kota harus menjadi tanggung jawab bersama. Salah satunya melalui optimalisasi peran rumah tangga dalam pemilahan sampah.
“Kota Mojokerto ini kecil, hanya sekitar 20 kilometer persegi. Maka ayo kita jaga bersama. Bagaimana kita memaksimalkan peran rumah tangga dalam memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Ning Ita, Selasa (10/2).
Ning Ita mencontohkan praktik pengelolaan sampah di Jepang, di mana masyarakat terbiasa memilah sampah hingga belasan kategori. Namun, untuk Kota Mojokerto, ia menilai pemilahan sampah ke dalam tiga hingga empat kategori sudah cukup efektif.
“Sebenarnya ini mudah, asal kita punya niat dan membiasakan diri. Kalau sampah organik dan anorganik sudah terpilah sejak dari rumah, saya yakin tidak akan ada lagi bau sampah dan lingkungan akan lebih berkualitas,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dibawa ke TPS 3R untuk dipilah kembali.
Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi telah difasilitasi melalui kerja sama dengan pihak ketiga, yakni Rekosistem, sehingga bisa memberikan manfaat finansial bagi masyarakat.
“Dengan begitu, yang masuk ke TPA hanyalah sampah anorganik yang benar-benar tidak bernilai ekonomi,” jelasnya.
Dari sisi infrastruktur, Ning Ita menyebut pengelolaan sampah di Kota Mojokerto sudah cukup memadai. Saat ini terdapat 30 depo sampah, 10 Tempat Penampungan Sementara (TPS), 3 TPS 3R, serta 1 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Dengan luas wilayah yang relatif kecil, fasilitas ini sebenarnya sangat mencukupi,” tambahnya.
Ning Ita mengajak warga untuk memulai kebiasaan memilah sampah dari lingkungan keluarga demi masa depan Kota Mojokerto.
Ia juga mengimbau masyarakat menghidupkan kembali budaya gotong royong melalui kerja bakti rutin serta saling mengingatkan jika menemukan praktik pembuangan sampah sembarangan.
“Gotong royong itu penting, bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki. Jika melihat ada yang membuang sampah sembarangan, mari ditegur dengan cara yang baik,” pungkasnya. (*)







