KabarBaik.co — Sebanyak 67 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini telah berdiri dan beroperasi di Jombang, Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, 45 SPPG sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Bupati Jombang Warsubi mengatakan capaian tersebut merupakan langkah penting dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Di Jombang saat ini sudah ada 67 SPPG yang berdiri dan beroperasi. Ini capaian luar biasa dan sangat membantu masyarakat,” ujar Warsubi usai meresmikan tiga SPPG Polres Jombang di Kelurahan Jombatan, Jumat (23/1).
Warsubi menjelaskan 22 SPPG lainnya masih dalam proses verifikasi oleh Dinas Kesehatan. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh layanan memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
“Semuanya masih dikaji. Dilihat operasional dan prosesnya. Kalau sudah memenuhi, pasti Dinas Kesehatan akan memberikan sertifikat,” katanya.
Meski jumlah SPPG terus bertambah, Warsubi mengakui layanan tersebut belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan penerima MBG di Jombang. Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, masih dibutuhkan sekitar 30 SPPG tambahan agar layanan gizi dapat merata.
“Kalau dihitung, Jombang masih kurang sekitar 30 SPPG,” ucapnya.
Di sisi lain, program pemenuhan gizi dinilai berdampak positif terhadap penurunan angka stunting, prevalensi stunting di Jombang turun dari 4,46 persen menjadi 3,4 persen.
Capaian itu menempatkan Jombang sebagai daerah dengan penurunan stunting terbaik di Regional 1 wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera. Pemerintah pusat pun memberikan bantuan fiskal penanganan stunting sebesar Rp 6,49 miliar.
“Ini hasil kerja bersama semua pihak,” ujar Warsubi.
Ia juga menekankan pentingnya keamanan pangan, terutama untuk mencegah kasus keracunan makanan. Salah satunya dengan memastikan bahan pangan, khususnya daging ayam, berasal dari rumah potong yang higienis dan bersertifikat.
Selain itu, Warsubi mendorong pelibatan masyarakat lokal dalam penyediaan bahan pangan bagi SPPG.
Menurutnya, program MBG berpotensi menggerakkan ekonomi desa melalui kerja sama dengan petani, peternak, dan pekebun setempat.
“Masyarakat bisa menanam sayuran, pisang, jeruk, atau beternak ayam petelur. Hasilnya bisa diserap SPPG di masing-masing kecamatan,” jelasnya.
Ia berharap sinergi semua pihak terus terjaga agar program MBG berjalan optimal dan sejalan dengan program pemerintah lainnya, seperti Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih.
“Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkas Warsubi. (*)






