KabarBaik.co, Banyuwangi – Tradisi oncor-oncoran menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam kembali digelar warga Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi, Senin (15/6). Ritual diikuti ratusan masyarakat tujuannya memohon keselamatan dan keberkahan.
Ritual dimulai dengan pawai seperti tawaf. Namun disini masyarakat memegang obor mengelilingi desa sembari melantunkan doa-doa ikhtiar. Di setiap sudut desa seseorang akan berhenti dan mengumandangkan adzan.
Tokoh Kelurahan Penataban, Akhmad Sholihin bercerita, oncor-oncoran merupakan kegiatan ritual tahunan yang diwariskan oleh para ulama terdahulu. Tradisi tersebut lahir dari ikhtiar masyarakat pada masa lalu ketika banyak terjadi musibah dan wabah penyakit.
“Dulu banyak kejadian dan musibah. Para ulama kemudian melakukan ikhtiar dan istighfar bersama, memperbanyak kalimat-kalimat toibah agar Allah memberikan ampunan dan keselamatan, khususnya bagi warga Penataban,” kata Sholihin yang juga Ketua Takmir Masjid Uswatun Hasanah, Penataban tersebut.
Menurutnya, tradisi tersebut hingga kini terus dilanjutkan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu.
Rangkaian kegiatan 1 Muharam di Penataban tidak hanya berupa oncor-oncoran. Sebelumnya, warga juga menggelar Khotmil Quran yang melibatkan masjid, musala, organisasi keagamaan, pemuda, serta masyarakat setempat.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke makam para ulama dan tokoh terdahulu yang berjasa merintis berbagai tradisi di Penataban. Kegiatan tersebut bertujuan mengenang jasa para pendahulu sekaligus memperkuat nilai spiritual masyarakat.
Sholihin menjelaskan, penggunaan oncor atau api dalam tradisi tersebut memiliki makna simbolis. Pada masa lalu, ketika belum ada penerangan listrik, api digunakan sebagai penerang jalan sekaligus menjadi simbol harapan agar kehidupan masyarakat selalu mendapatkan cahaya dan keselamatan.
“Api itu simbol terang, bukan hanya menerangi malam tetapi juga menjadi harapan agar kehidupan semakin terang. Sekarang bentuknya bisa bermacam-macam, yang terpenting maknanya tetap sebagai penerang,” jelasnya.
Ia menyebut, oncor-oncoran bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk memohon perlindungan kepada Tuhan. Bukan hanya untuk masyarakat Penataban saja, namun juga untuk semua umat.
“Ini bukan hanya untuk warga Penataban, tetapi doa keselamatan untuk semuanya. Harapannya Allah memberikan ampunan dan keselamatan bagi masyarakat serta Indonesia,” katanya.
Selain oncor-oncoran, keesokan harinya rangkaian tradisi 1 Muharam di Penataban juga akan dilanjutkan dengan kegiatan bersih desa yang melibatkan seluruh warga. Acara tersebut diisi dengan pembukaan, pembacaan sejarah tradisi, hingga doa bersama oleh para ulama. (*)





