Diprediksi Juara Piala Dunia 2026, Belanda Disingkirkan Maroko Lewat Adu Penalti

oleh -371 Dilihat
IMG 20260630 112037

KabarBaik.co, AS– Timnas Maroko giliran yang mengejutkan dunia sepak bola. Mereka menyingkirkan Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6) pagi WIB. Pertandingan yang berlangsung di Estadio BBVA, Guadalupe, itu berakhir imbang 1-1 setelah 120 menit, dan Singa Atlas menang 3-2 dalam adu penalti.

Gol Cody Gakpo pada menit ke-72 memberi keunggulan sementara bagi Belanda, dibantu assist Crysencio Summerville. Namun, Maroko menyamakan kedudukan di injury time babak kedua (90+1) melalui sundulan Issa Diop memanfaatkan umpan Chemsdine Talbi. Babak perpanjangan waktu tak menghasilkan gol tambahan, sehingga keputusan jatuh ke adu penalti.

Dalam drama penalti, Belanda gagal tiga kali (Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville yang dihalau Yassine Bounou). Maroko lebih tenang, meski Achraf Hakimi dan Neil El Aynaoui sempat gagal, gol dari Soufiane Rahimi, Chemsdine Talbi, dan penentu kemenangan Ismael Saibari membawa Maroko lolos ke babak 16 besar.

Kiper Maroko Yassine Bounou tampil heroik, sementara Bart Verbruggen di kubu Belanda juga melakukan beberapa penyelamatan penting. Pertandingan ini menjadi bukti ketangguhan Maroko sebagai tim peringkat 7 dunia versi FIFA yang sulit dikalahkan di fase knockout.

Sebelum turnamen, Belanda sempat menjadi sorotan setelah Joachim Klement, ekonom dan matematikawan asal Jerman yang bekerja di Panmure Liberum, memprediksi Oranje sebagai juara Piala Dunia 2026 menggunakan model statistiknya. Model yang sama telah sukses memprediksi juara tiga edisi sebelumnya: Jerman (2014), Prancis (2018), dan Argentina (2022). Klement memproyeksikan Belanda akan melewati jalur berat termasuk melawan Maroko, Prancis, dan Spanyol sebelum menang di final.

Media-media Belanda pun ramai menyoroti kekalahan ini sebagai “drama” dan “kegagalan dini” bagi Oranje. Sebuah media menyebut “nieuw penaltytrauma voor Oranje” (trauma penalti baru bagi Oranje) dan “dramatische aftocht” (kepergian dramatis) di Meksiko. Mereka menyoroti kegagalan penalti Timber, Kluivert, dan Summerville, serta spekulasi bahwa ini bisa jadi pertandingan terakhir Ronald Koeman sebagai pelatih.

De Telegraaf dan media lain sebelum pertandingan sudah mewanti-wanti soal kekuatan Maroko, menyebutnya sebagai ujian sesungguhnya bagi Belanda yang belum pernah mengalahkan tim top ranking sejak Koeman kembali. Pasca-kekalahan, sorotan tertuju pada performa buruk di babak gugur dan catatan penalti Belanda yang buruk di Piala Dunia. Banyak yang menilai ini sebagai akhir menyakitkan bagi tim berperingkat 7-8 dunia.

Sementara itu, di kubu Maroko, kemenangan ini dirayakan sebagai pencapaian heroik yang mengulangi semangat Qatar 2022. Media lokal menyoroti ketangguhan pertahanan, peran kunci pemain seperti Saibari yang menjadi pahlawan penalti, Bounou, Hakimi, dan Diop. Kemenangan atas Belanda dilihat sebagai bukti Maroko kini menjadi kekuatan mapan di level dunia, dengan generasi talenta Eropa yang solid.

Fans dan media Maroko merayakan semangat juang tim, doa bersama sebelum penalti, dan kemampuan mengatasi tekanan. Ini memperkuat posisi Maroko sebagai salah satu tim Afrika paling sukses di Piala Dunia modern.

Pertandingan ini juga menarik perhatian karena isu loyalitas di kalangan komunitas Maroko-Belanda, meski fokus utama tetap pada aksi di lapangan. Maroko selanjutnya akan menghadapi Kanada di babak 16 besar, sementara Belanda harus pulang lebih awal dengan kekecewaan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.