DUA puluh empat tahun lalu, Hong Myung-bo berdiri di tengah lapangan Yokohama International Stadium sebagai kapten legendaris yang membawa Korea Selatan mencapai semifinal dan akhirnya finis di peringkat keempat Piala Dunia 2002. Sorak-sorai jutaan warga memenuhi jalanan Seoul, bendera Taegeuk melambai di mana-mana, dan namanya diabadikan bak pahlawan.
Kini, pria yang sama itu pulang tanpa gegap gempita yang dulu mengiringinya. Di Bandara Internasional Incheon, bukan sambutan pahlawan yang menanti, melainkan barikade polisi, teriakan “Hong Out!”, hingga ancaman pembunuhan. Kisah dramatis ini bukan drama Korea. Bukan sekadar kegagalan sepak bola, melainkan cerminan kemarahan yang meluas di kalangan publik sepak bola Korea Selatan terhadap salah satu ikon mereka sendiri.
Hong Myung-bo, 57, sejatinya telah mengumumkan mundur hanya beberapa jam setelah eliminasi resmi Timnas Korsel di fase grup Piala Dunia 2026. Dengan catatan satu kemenangan dan dua kekalahan, termasuk kekalahan mengejutkan 0-1 dari Timnas Afrika Selatan yang peringkatnya jauh lebih rendah, Taegeuk Warriors pun gagal melaju ke babak 32 besar.
Meski format turnamen diperluas menjadi 48 tim, Korsel hanya mampu finis di peringkat ketiga Grup A dan gagal masuk delapan tim peringkat ketiga terbaik. Hasil tersebut menjadi salah satu pencapaian terburuk Korea Selatan sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Bagi banyak warga Korsel, hasil tersebut terasa lebih dari sekadar kekalahan di lapangan. Harapan besar terhadap generasi yang diperkuat Son Heung-min dan sejumlah pemain yang berkarier di Eropa justru berujung pada pencapaian yang jauh di bawah ekspektasi.
“Kami punya skuad impian dengan Son Heung-min dan bintang-bintang Eropa, tapi hasilnya malah lebih buruk dari sebelumnya,” ujar seorang penggemar. Kekecewaan itu pun dengan cepat berubah menjadi aksi yang lebih ekstrem.
Polisi Incheon mengerahkan lebih dari 100–160 petugas untuk mengamankan kedatangan Timnas Korea. Alasan utamanya adalah ancaman pembunuhan yang beredar di media sosial. Salah satu postingan viral berjudul, “Saya akan ambil tanggung jawab dan membunuh Hong Myung-bo”.
Penulis postingan tersebut mengaku sebagai warga negara Amerika berusia 41 tahun dan menyatakan akan datang ke bandara untuk melaksanakan ancamannya. Polisi kini melacak identitas pelaku atas dugaan ancaman pidana sembari memperketat pengamanan guna mencegah kemungkinan terjadinya kekerasan.
Kekecewaan itu tak berhenti di dunia maya. Ia merembes ke kehidupan sehari-hari. Foto-foto spanduk bertuliskan “Hong Myung-bo Dilarang Masuk” menyebar cepat di media sosial.
Di sebuah kedai hansik di Hogye-dong, Anyang (Gyeonggi), pemilik warung memasang spanduk lengkap dengan gambar bola dan tulisan tegas tersebut. “Saya memasangnya setelah kekalahan melawan Afrika Selatan. Saya sangat marah sebagai pecinta sepak bola,” kata pemiliknya, seperti dikutip media lokal.
Spanduk serupa muncul di restoran BBQ di Gimje (Jeolla Utara), kafe di Mapo-gu, Seoul, bahkan beberapa convenience store. Ada pula foto bus kota dengan tulisan “Hong Myung-bo dilarang naik”.
Fenomena tersebut bukan boikot yang terorganisasi, melainkan luapan emosi spontan yang mencerminkan kekecewaan mendalam. Sementara itu, broadcaster sebuah stasiun televisi dilaporkan sempat memburamkan wajah Hong saat menayangkan konferensi pers pengunduran dirinya, sebuah langkah yang jarang terjadi dan menunjukkan betapa panasnya situasi saat itu.
Reaksi tidak hanya datang dari masyarakat. Presiden Lee Jae-myung secara terbuka turut menyatakan kekecewaannya. “Sebagai mantan ketua kehormatan klub sepak bola dan pendukung Red Devils, saya merasa bukan hanya kebingungan, tapi kekagetan mendalam atas hasil yang tak terduga ini,” tulisnya di media sosial.
Sang Presiden menilai kegagalan organisasi dan proses pemilihan personel menjadi penyebab utama. Presiden kemudian memerintahkan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata melakukan investigasi menyeluruh sekaligus mendorong reformasi administrasi olahraga.
Media arus utama Korsel serentak menyebut hasil ini sebagai “disaster” dan “kehinaan nasional”. Park Ji-sung, legenda Manchester United yang pernah bermain bersama Hong pada Piala Dunia 2002, pun angkat suara. “Mungkin kita sudah menduga ini bertahun-tahun lalu. Ini saat yang menyedihkan di mana kita harus melihat ke belakang dan bertanya mengapa kita sampai di titik ini.”
Son Heung-min, kapten tim yang masih mendapat dukungan publik, menyampaikan permintaan maaf mendalam. “Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya minta maaf kepada seluruh rakyat Korea.” Kontras antara simpati kepada para pemain dan kemarahan terhadap pelatih semakin memperjelas bahwa Hong menjadi sasaran utama kekecewaan publik.
Untuk memahami besarnya reaksi tersebut, perjalanan panjang Hong di sepak bola Korea memang tak bisa dilepaskan dari kisah ini.

Riwayat Karier Hong
Hong Myung-bo lahir pada 12 Februari 1969 di Seoul. Sebagai pemain, ia dikenal sebagai “Eternal Libero”, bek tengah yang elegan sekaligus tangguh. Ia mencatat 136 caps untuk Timnas Korea Selatan sepanjang 1990–2002 dan tampil dalam empat edisi Piala Dunia secara beruntun, sebuah rekor untuk pemain Asia.
Puncak kariernya terjadi pada Piala Dunia 2002 saat memimpin Korsel melaju hingga semifinal sebelum akhirnya finis di peringkat keempat, pencapaian terbaik sepanjang sejarah negara tersebut. Hong juga masuk dalam daftar FIFA 100 pilihan Pele.
Setelah pensiun bersama LA Galaxy pada 2004, Hong langsung terjun ke dunia kepelatihan. Ia sukses membawa Tim U-23 Korea Selatan meraih medali perunggu Olimpiade London 2012. Namun, periode pertamanya menangani tim senior (2013–2014) berakhir dengan kegagalan di Piala Dunia Brasil 2014.
Setelah itu, Hong sempat melatih Hangzhou Greentown di China, menjabat sebagai eksekutif federasi sepak bola Korsel (KFA), kemudian sukses bersama Ulsan HD dengan mempersembahkan dua gelar K League secara beruntun pada 2022 dan 2023.
Kembalinya Hong sebagai pelatih Timnas pada Juli 2024 sempat disambut penuh harapan. Namun, hasil di Piala Dunia 2026 menghancurkan optimisme tersebut. Kini, namanya identik dengan kegagalan kampanye Korsel di turnamen itu sekaligus memicu tuntutan perombakan menyeluruh di KFA, termasuk terhadap kepemimpinan Presiden KFA Chung Mong-gyu.
Eliminasi dini itu bukan hanya soal satu turnamen. Bagi banyak pihak, inilah momentum untuk melakukan pembenahan besar-besaran dalam sepak bola Korsel. Publik olahraga di sana menuntut reformasi sistem pemilihan pelatih, pengembangan talenta jangka panjang hingga penghapusan budaya yang selama ini dianggap menghambat kemajuan.
Bagi Hong Myung-bo, ini bisa menjadi akhir dari perjalanan panjangnya di level tertinggi. Sosok yang pernah menginspirasi jutaan warga Korea Selatan kini justru menjadi simbol kekecewaan publik. Kisahnya menunjukkan betapa tipisnya jarak antara kejayaan dan keterpurukan itu.
Di balik semua kekecewaan dan kemarahan itu, tersimpan pelajaran bahwa kebangkitan sepak bola tidak cukup bertumpu pada talenta individu semata, tetapi juga membutuhkan fondasi organisasi yang lebih kuat. Kini, yang ditunggu bukan sekadar pelatih baru, melainkan arah baru bagi masa depan sepak bola. (*)






