KabarBaik.co, Blitar – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap dua sampel ginjal tikus yang ditangkap di sekitar rumah pasien leptospirosis di Kota Blitar menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar belum menurunkan kewaspadaan dan tetap mengintensifkan edukasi kepada masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati mengatakan, pemeriksaan dilakukan sebagai tindak lanjut setelah ditemukannya satu kasus positif leptospirosis beberapa waktu lalu.
Dua sampel ginjal tikus yang diperoleh dari hasil penangkapan di sekitar lingkungan pasien dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya untuk diuji. “Hasil laboratorium sudah kami terima. Dua sampel ginjal tikus yang diperiksa dinyatakan negatif bakteri Leptospira,” ujarnya, Senin (8/6).
Menurut Silvia, hasil tersebut menjadi kabar baik karena tidak ditemukan indikasi penyebaran bakteri leptospira pada sampel yang diperiksa. Namun, hal itu tidak serta merta menghilangkan potensi risiko penularan penyakit tersebut.
Pasalnya, leptospirosis dapat ditularkan melalui berbagai sumber lingkungan yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri, terutama pada area yang lembab, kotor, maupun tergenang air. “Meski hasil sampel negatif, kami tetap meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat harus tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan air yang berpotensi tercemar,” katanya.
Dinkes juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah pencegahan leptospirosis. Warga diimbau menggunakan alat pelindung seperti sepatu bot atau sarung tangan saat membersihkan saluran air, selokan maupun area yang berisiko menjadi tempat berkembangnya tikus.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis. Gejala tersebut antara lain demam tinggi, nyeri otot terutama pada bagian betis, sakit kepala, hingga mata merah setelah beraktivitas di lingkungan yang kurang bersih.
“Kalau muncul gejala setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko, segera periksa ke fasilitas kesehatan agar bisa ditangani lebih cepat,” pungkasnya. (*)






