KabarBaik.co, Jombang – Di tengah menjamurnya jajanan modern, kue tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Hal itu dirasakan Setyaningsih, perajin kue tradisional asal Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.
Setiap hari ia memproduksi aneka kue tradisional seperti plemben dan mawaran, yang merupakan usaha turun-temurun dari keluarganya. Memasuki Bulan Suro, permintaan kue buatannya meningkat karena banyak digunakan untuk sedekah desa, kenduri, dan berbagai tradisi masyarakat.
“Usaha ini sudah turun-temurun dari mbah buyut, lalu diteruskan ibu, dan sekarang saya yang menjalankan,” kata Setyaningsih, Jum’at (3/7).
Dalam kondisi normal, usaha tersebut menghabiskan sekitar 50 kilogram tepung terigu setiap bulan. Jumlah produksi bertambah saat musim hari raya maupun tradisi sedekah desa.
Tak hanya dipasarkan di wilayah Bareng dan Mojowarno, kue buatan Setyaningsih juga dikirim ke berbagai daerah di Jombang, Wonosalam, Kota Malang, bahkan hingga Kalimantan.
“Bahkan pernah ada pembeli dari Malang yang membawa plemben ini untuk oleh-oleh haji,” ujarnya.
Harga kue yang ditawarkan relatif terjangkau. Kue dijual mulai Rp 2.000 per buah, sedangkan plemben kemasan dibanderol Rp 17.000 hingga Rp 25.000. Untuk pembelian satu kilogram, harganya sekitar Rp 60.000.
Rumah produksi Setyaningsih berada di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, tidak jauh dari kawasan wisata Pemandian Pandansili.
Di tengah ketatnya persaingan kuliner, usaha Setyaningsih menjadi contoh bahwa cita rasa tradisional masih mampu bertahan.
Selama tradisi masyarakat tetap lestari, kue-kue warisan leluhur pun diyakini akan terus memiliki peminat.






