KabarBaik.co, Malang – Di tengah maraknya kuliner modern, keberadaan jajanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu buktinya adalah Puthu Lanang, kuliner legendaris di Kota Malang yang telah bertahan sejak 1935 dan hingga kini tetap menjadi tujuan favorit para pecinta kuliner.
Berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kecamatan Klojen, Kota Malang, tepat di depan sebuah gang kecil di kawasan Celaket, warung sederhana ini hampir tidak pernah sepi pengunjung. Baik warga lokal maupun wisatawan dari luar kota rela mengantre untuk menikmati cita rasa khas yang dipertahankan selama lebih dari sembilan dekade.
Generasi kedua pengelola Puthu Lanang, Siswoyo, 62, mengatakan konsistensi kualitas menjadi kunci utama usaha keluarganya mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Seluruh proses pembuatan masih mempertahankan metode tradisional, termasuk penggunaan cetakan bambu yang menjadi ciri khas kue putu.
“Kami menggunakan tepung beras pilihan, gula merah murni, dan kelapa segar. Konsistensi proses itulah yang menjaga kepercayaan pelanggan,” ujar Siswoyo, Minggu (28/6).
Selain kue putu, Puthu Lanang juga menawarkan beragam jajanan tradisional lainnya seperti klepon, cenil, lupis, tiwul, gatot, hingga bledus. Seluruh menu tersebut dijual dengan harga Rp18 ribu per porsi, sehingga pengunjung dapat menikmati berbagai cita rasa khas jajanan Nusantara dalam satu tempat.
Tekstur putu yang lembut dipadukan dengan isian gula merah yang lumer saat digigit menjadi daya tarik utama. Aroma pandan yang berpadu dengan uap dari cetakan bambu semakin memperkuat pengalaman menikmati kudapan tradisional tersebut.
Tingginya minat masyarakat tercermin dari angka penjualan harian. Dalam kondisi normal, Puthu Lanang mampu menjual ratusan porsi setiap hari. Ketika memasuki musim libur panjang, jumlah dalam sehari tersebut dapat meningkat hingga dua kali lipat karena banyak wisatawan menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata kuliner saat berada di Kota Malang.
“Sehari Puthu Lanang mampu menjual rata-rata 600 hingga 700 porsi. Jumlah pembeli relatif stabil setiap hari, namun dapat meningkat hingga dua kali lipat saat libur panjang seiring bertambahnya pembeli dari luar kota,” jelas Siswoyo.
Usaha yang pertama kali dirintis oleh Ibu Soepijah ini menjadi bukti bahwa menjaga kualitas bahan baku dan mempertahankan cara pengolahan tradisional mampu menciptakan loyalitas pelanggan lintas generasi.
Hingga kini, Puthu Lanang tidak hanya dikenal sebagai tempat menikmati jajanan tradisional, tetapi juga telah menjadi salah satu ikon kuliner khas Kota Malang yang terus menjaga warisan cita rasa Indonesia. (*)






