KabarBaik.co, Banyuwangi – DPRD Banyuwangi menyoroti rendahnya retribusi pada sektor pariwisata di wilayah setempat. Padahal kunjungan wisata ke Kabupaten Banyuwangi sepanjang 2025 meningkat signifikan, namun penerimaan retribusi pariwisata justru jauh dari target.
Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Akhir Tahun Anggaran 2025, jumlah wisatawan nusantara tercatat naik dari 3,28 juta orang pada 2024 menjadi 3,50 juta orang pada 2025. Sementara wisatawan mancanegara juga meningkat dari 122,90 menjadi 166,99.
Meski tren kunjungan positif, capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi tempat wisata hanya terealisasi 31 persen dari target.
Ketua Komisi III DPRD Banyuwangi, Febri Prima Sanjaya, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius pihaknya saat pembahasan LKPJ Bupati 2025.
“Jika melihat angka kunjungan wisata ke Banyuwangi tahun 2025 sangat luar biasa, namun capaian penerimaan retribusi pariwisata masih jauh dari target yang ditetapkan yang hanya terealisasi sebesar 31 persen,” kata Febri usai rapat Banggar, Senin (13/4).
Menurut dia, target PAD dari retribusi tempat wisata pada 2025 sebesar Rp 3,4 miliar, namun realisasinya hanya Rp 1,3 miliar.
“Penerimaan retribusi tempat wisata masih sangat jauh dari target yang ditetapkan. Hal ini tentu menjadi tanda tanya kami, bagaimana pengelolaan retribusi di tempat pariwisata itu, apakah terjadi kebocoran yang sistematis,” ujarnya.
Untuk menindaklanjuti persoalan tersebut, Komisi III DPRD Banyuwangi dalam waktu dekat akan menggelar rapat kerja khusus dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama pengelola destinasi wisata.
Febri juga menyoroti sistem e-ticketing yang dinilai belum termonitor maksimal, padahal sistem itu terintegrasi secara online dan memungkinkan pencatatan jumlah pengunjung serta retribusi secara real time.
“Kita akan cari tahu apakah sistem ini masih efektif atau tidak. Apalagi pelaksana tugas kepala dinasnya juga baru,” pungkasnya.






