KabarBaik.co, Surabaya – Ukuran penis yang tampak lebih kecil dari anak seusianya kerap membuat orang tua khawatir. Namun, kondisi tersebut tidak selalu bisa dinilai hanya dari pengamatan mata.
Dalam dunia medis, terdapat kondisi yang dikenal sebagai mikropenis, yakni ukuran penis yang secara signifikan lebih kecil dibandingkan standar normal berdasarkan usia anak, meski bentuk dan struktur anatominya tetap normal.
Dokter Spesialis Anak National Hospital Surabaya dr. Achmad Yuniari Heryana, Sp.A menjelaskan bahwa mikropenis bukan sekadar persoalan ukuran organ reproduksi. Kondisi ini dapat menjadi petunjuk adanya gangguan hormonal, kelainan genetik, maupun gangguan perkembangan seksual yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Pertumbuhan penis dipengaruhi oleh hormon androgen, terutama testosteron, sejak masa kehamilan. Jika produksi hormon tersebut kurang atau tubuh janin tidak merespons hormon dengan baik, pertumbuhan penis dapat terhambat sehingga terjadi mikropenis,” ujar dr. Achmad, Sabtu (20/6).
Menurut dr. Achmad, diagnosis mikropenis tidak dapat ditegakkan hanya dengan melihat ukuran penis secara kasat mata. Dokter perlu melakukan pengukuran khusus yang disebut stretched penile length (SPL), yaitu pengukuran panjang penis dalam kondisi diregangkan secara perlahan. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan standar ukuran sesuai usia anak.
Pada bayi baru lahir yang cukup bulan, ukuran penis yang berada jauh di bawah rentang normal dapat mengarah pada diagnosis mikropenis. Jika ditemukan kondisi tersebut, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab yang mendasarinya.
Dr. Achmad menjelaskan selain gangguan hormon androgen, mikropenis juga dapat dipicu oleh gangguan pada hipotalamus dan kelenjar hipofisis di otak, kelainan genetik tertentu, gangguan pembentukan hormon testosteron, hingga Disorders of Sex Development (DSD) atau gangguan perkembangan seksual.
Dalam beberapa kasus, mikropenis juga ditemukan bersamaan dengan kelainan lain, seperti hipospadia, yaitu kondisi ketika lubang saluran kemih tidak berada di ujung penis, maupun kriptorkismus atau testis yang tidak turun ke dalam kantung zakar.
“Kondisi-kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis anak, terutama yang memiliki kompetensi di bidang endokrinologi anak,” katanya.
Deteksi dini menjadi faktor penting dalam penanganan mikropenis. Sebab, sejumlah kasus yang disebabkan gangguan hormonal masih memiliki peluang mendapatkan terapi yang efektif apabila ditemukan pada usia yang tepat.
Masa bayi, khususnya beberapa bulan pertama setelah lahir, menjadi periode yang dinilai penting untuk evaluasi dan penanganan. Pada fase ini, respons tubuh terhadap terapi hormonal umumnya lebih baik dibandingkan ketika anak sudah berusia lebih besar.
Dr. Achmad mengingatkan masyarakat agar tidak memandang mikropenis hanya sebagai persoalan ukuran organ reproduksi semata.
“Mikropenis bisa menjadi petunjuk adanya gangguan hormonal atau kelainan perkembangan yang mendasari. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang anak mendapatkan penanganan yang optimal dan mendukung kualitas hidupnya di masa depan,” jelasnya.
Ia menambahkan mikropenis tidak selalu berarti anak akan mengalami gangguan kesuburan saat dewasa nanti. Kemampuan reproduksi sangat bergantung pada penyebab yang mendasari kondisi tersebut. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk menentukan diagnosis sekaligus terapi yang paling sesuai.
National Hospital mengimbau para orang tua untuk rutin memantau tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan organ reproduksinya. Jika terdapat kekhawatiran terkait ukuran penis, posisi testis, atau perkembangan seksual anak secara umum, konsultasi dengan dokter spesialis anak menjadi langkah yang disarankan agar kondisi dapat dievaluasi sejak dini. (*)






