KabarBaik.co, Bima — Petani jagung di Kabupaten Bima tengah menikmati panen raya dengan hasil melimpah. Produksi bahkan mencapai 8 ton pipil kering per hektare di sejumlah wilayah.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama karena harga jual di tingkat petani justru anjlok.
Rendahnya daya serap Perum Bulog disebut menjadi salah satu penyebab utama. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan gudang penampungan serta minimnya mesin pengering (dryer) milik pemerintah.
“Hasil panen melimpah, tapi harga anjlok. Bulog lambat menyerap, sementara tengkulak memainkan harga di bawah HPP,” ujar Ramli Ram, perwakilan kelompok tani di Bima, Jumat (17/4).
Di lapangan, gudang-gudang penampungan lokal terlihat belum optimal menyerap hasil panen. Sementara itu, jagung petani banyak memiliki kadar air tinggi yang menjadi kendala teknis dalam proses penyerapan.
Ramli menegaskan, petani berharap Bulog segera mengambil langkah konkret, terutama di masa panen raya agar harga tidak terus tertekan.
“Kami minta Bulog mematuhi HPP, khususnya untuk kadar air 14 persen di kisaran Rp 5.050 hingga Rp 5.100 per kilogram,” katanya.
Ironisnya, sebagian besar hasil panen justru diserap oleh perusahaan non-Bulog dengan harga rendah, sekitar Rp 5.050 per kilogram.
Petani juga menyoroti minimnya volume penyerapan. Saat ini, penyerapan disebut hanya sekitar 100 ton per minggu, jauh dari kebutuhan di tengah lonjakan produksi.
“Kami minta penyerapan ditingkatkan, bukan 100 ton per minggu, tapi bisa mencapai 1.000 ton dengan pembongkaran 25 sampai 30 unit per hari,” tegas Ramli.
Petani mendesak adanya intervensi cepat dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, agar hasil panen tidak terbuang sia-sia dan harga kembali stabil.
Sementara itu, Kepala Bulog Bima Alfan Ghazali saat dihubungi belum memberikan keterangan.(*)






