KabarBaik.co, Mojokerto — Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mendorong penguatan sinergi antara Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai langkah strategis untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan di tingkat kelurahan.
Hal itu disampaikan dalam sosialisasi bertajuk ‘Wujudkan Kesejahteraan Bersama, Memahami Peran dan Manfaat KKMP’ yang digelar di Kelurahan Gedongan.
Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita itu menekankan bahwa koperasi tidak hanya berfokus pada penyediaan kebutuhan pokok, tetapi juga perlu membangun kemitraan strategis, termasuk dengan SPPG.
“SPPG ini kebutuhannya sangat besar. Kalau satu dapur melayani 2.000 porsi per hari, dengan belanja Rp 8.000 per porsi, berarti ada perputaran Rp 160 juta per hari,” ujarnya Jumat (10/4).
Menurutnya, kerja sama ini membuka peluang besar bagi koperasi untuk terlibat dalam rantai pasok pangan skala besar.
“Kalau koperasi bisa mengambil sebagian kecil saja, itu sudah menjadi peluang omzet yang signifikan,” katanya.
Ia menjelaskan sinergi tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat dalam membangun ekosistem ekonomi sirkuler, di mana perputaran ekonomi terjadi dalam satu wilayah dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Untuk mendukung hal itu, Ning Ita meminta camat dan lurah aktif memfasilitasi kerja sama antar lembaga, termasuk mengatur pembagian peran antar KKMP agar manfaatnya bisa dirasakan secara merata.
“Tujuan utama program ini adalah membangun ekonomi kerakyatan yang kuat. Koperasi harus menjadi penggerak utama, bukan hanya ramai di awal, tetapi juga berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan koperasi saat ini tidak lagi bergantung pada besarnya aset fisik, melainkan pada kemampuan mengelola sistem dan memanfaatkan teknologi digital.
“Urat nadi koperasi bukan dari besar kecilnya gerai, tapi bagaimana sistemnya berjalan. Dengan teknologi dan perdagangan online, peluang keuntungan terbuka lebar,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Ning Ita turut mengapresiasi perkembangan KKMP Gedongan yang menunjukkan peningkatan omzet. Jika sebelumnya hanya mencapai Rp 8 juta dalam beberapa bulan pada 2025, kini dalam tiga bulan pertama sudah menembus Rp 24 juta.
Menurutnya, capaian tersebut perlu terus didorong dengan memperluas partisipasi masyarakat, baik sebagai anggota maupun konsumen, serta menjaga harga tetap kompetitif agar mampu bersaing dengan toko modern.
Di akhir kegiatan, Ning Ita membuka ruang dialog dengan peserta untuk menggali potensi lain yang dapat dikembangkan di Kelurahan Gedongan, terutama dalam mendukung UMKM dan memperkuat unit usaha koperasi.
Pemerintah Kota Mojokerto berharap, melalui sinergi yang terbangun, ekonomi sirkuler di tingkat kelurahan dapat berjalan optimal dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata. (*)






