KabarBaik.co, Nganjuk — Masyarakat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk kembali menggelar tradisi turun-temurun jamas pusaka (penyucian benda pusaka) peninggalan Kyai Ageng Ngaliman pada Jumat (26/6).
Ritual tahunan yang melibatkan masyarakat adat setempat ini berlangsung penuh kesakralan dan kekhusyukan sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.
Adapun enam pusaka yang disucikan dalam ritual ini terdiri dari Kyai Kembar, Kyai Honda, Kyai Jogotruno, Kyai Bethik, Raden Panji, dan Nyai Dukun.
“Enam pusaka ini dibawa dulu ke Makam Mbah Ngaliman sebelum dijamas. Intinya pamit dulu ke beliau sambil kita mengirim doa bagi beliau,” ujar Ketua Tokoh Adat Desa Ngliman, Mbah Tulus, saat menjelaskan prosesi awal ritual.
Sebelum proses penyucian dimulai, keenam pusaka tersebut memang terlebih dahulu dikirab menuju Makam Kyai Ageng Ngaliman dengan iringan tokoh pembawa kemenyan, cucuk lampah (pembuka jalan), serta barisan pembawa pusaka dan pengikutnya.
Mbah Tulus menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki akar sejarah yang sangat kuat dan sudah berlangsung lintas generasi.
“Pusaka-pusaka itu, kalau dilihat dari tahunnya, sejak tahun 972 masehi, era Empu Sindok. Dulu pusaka itu dipakai untuk berperang dengan wilayah Kediri atau Dhoho, baik oleh Empu Sindok maupun Mbah Yai Ngaliman,” tutur Mbah Tulus mengenai asal-usul benda sakral tersebut.
Lebih dari sekadar merawat fisik benda bersejarah, ritual jamasan ini juga menyimpan esensi spiritual yang mendalam sebagai doa tolak bala.
“Jadi harapannya, agar tradisi ini terus kita uri-uri (dilestarikan), dimeriahkan semeriah mungkin, agar semua masyarakat punya adab, punya adat,” jelasnya menguraikan harapan masyarakat adat demi keselamatan seluruh warga Nganjuk.
Setelah prosesi kirab pamitan selesai, keenam pusaka diboyong kembali ke Gedong Pusaka di Balai Desa Ngliman untuk menjalani prosesi penjamasan utama. Sesaat setelah ritual selesai, suasana seketika riuh ketika warga saling berebut air bekas jamasan pusaka yang dipercaya membawa berkah.
“Air bekas jamasan tadi dibawa oleh masyarakat untuk dibawa pulang. Yang tani untuk pertanian, untuk orang sakit. Karena dulu kan tidak ada dokter, jadi air bekas jamasan itu buat obat,” beber Mbah Tulus mengenai tradisi unik tersebut.
Acara yang sarat nilai budaya ini juga mendapat perhatian besar dari pemerintah daerah. Terlihat hadir dalam prosesi di antaranya perangkat Desa Ngliman, jajaran Forkopimcam Sawahan, Kepala Disporabudpar Nganjuk Gunawan Widagdo, serta Kepala Dinas Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasar.






