KabarBaik.co, Jember – Di tengah tantangan pengetatan fiskal dan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo tak kehabisan akal. Di bawah komando Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo, kabupaten ini terus memutar otak untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sekaligus menjinakkan laju inflasi.
Strategi tersebut dibeberkan langsung oleh bupati yang akrab disapa Mas Rio ini, usai menghadiri pengukuhan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jember, Jumat (26/6).
Menurut Mas Rio, kunci utama menghadapi keterbatasan anggaran saat ini adalah memperkuat sinergi lintas sektor.
“Kolaborasi adalah poin paling krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah, khususnya di wilayah Sekar Kijang (Eks-Keresidenan Besuki dan sekitarnya),” ujar Mas Rio.
Langkah kolektif ini mulai membuahkan hasil manis. Pertumbuhan ekonomi di lima kabupaten penopang kawasan ini Jember, Situbondo, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi menunjukkan tren positif.
“Situbondo sendiri berhasil mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,28 persen. Angka ini berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya optimis.
Meski angka pertumbuhan melesat, Mas Rio menegaskan pihaknya tidak mau lengah. Evaluasi dan analisis berkala terus dilakukan untuk memetakan komoditas yang rentan memicu inflasi. Saat ini, fokus perhatian tertuju pada dua komoditas utama: cabai dan telur.
Untuk meredam dampaknya terhadap daya beli masyarakat, Pemkab Situbondo langsung mengucurkan intervensi kebijakan yang taktis melalui program Situbondo Mandiri Pangan. Uniknya, program ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat secara langsung.
“Untuk komoditas cabai, kita gerakkan kaum ibu. Pemerintah menyiapkan bibitnya, lalu mereka menanam mandiri di pekarangan. Sedangkan untuk telur, kita berdayakan anak-anak muda lewat literasi peternakan, lengkap dengan bantuan insentif kandang. Program ini sedang berjalan sekarang,” paparnya.
Melalui kemandirian pangan ini, diharapkan pasokan pasar tetap stabil sehingga inflasi dapat diredam.
“Sebab, jika inflasi terjaga, pertumbuhan ekonomi otomatis akan ikut terdongkrak,” imbuhnya.
Tantangan terbesar Pemkab Situbondo saat ini adalah memastikan daya beli masyarakat merata hingga ke pelosok, agar roda perekonomian terus berputar. Menutup keterangannya, Mas Rio menganalogikan strategi bertahan ini dengan istilah yang unik.
“Di kondisi sekarang, kita menerapkan prinsip The Power of Kepepet. Artinya, keterbatasan anggaran justru menuntut kita untuk melahirkan inovasi baru demi mendongkrak ekonomi, tanpa sedikit pun menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya.(*)






