KabarBaik.co, Batu – Memperingati usia ke-100 tahun, Pemerintah Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggelar prosesi adat Atur Pisungsung Merti Bumi yang dipadukan dengan Selamatan Desa di halaman Kantor Desa Tulungrejo, Sabtu (27/6). Tradisi yang telah berlangsung selama satu abad itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi, keselamatan, dan keharmonisan kehidupan desa.
Kepala Desa Tulungrejo, Suliono atau yang akrab disapa Ki Klungsu, mengatakan Merti Bumi memiliki makna lebih dari sekadar agenda tahunan. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang terus dijaga sebagai perekat kebersamaan warga sekaligus penguat identitas masyarakat lereng Gunung Arjuno-Welirang.
“Bagi kami warga lereng Gunung Arjuno-Welirang, Merti Bumi bukan sekadar acara tahunan. Ini cara menjaga adat, mempererat persatuan, dan memperkuat jati diri desa,” ujar Ki Klungsu.
Prosesi Atur Pisungsung menjadi inti dari peringatan tersebut. Ribuan warga dari lima dusun, yakni Junggo, Gerdu, Kekep, Gondang, dan Wonorejo, membawa aneka hasil bumi berupa pisang, kelapa, buah-buahan, hingga sayuran sebagai sedekah bumi.
Sedangkan, tradisi itu merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun selama 100 tahun.
Perayaan Hari Jadi ke-100 Desa Tulungrejo tahun ini mengusung tema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti”. Tema tersebut mencerminkan semangat masyarakat untuk terus menjaga nilai spiritual, budaya, serta kehidupan sosial yang harmonis di tengah perkembangan zaman.
Ki Klungsu menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan disusun berdasarkan perhitungan kalender Jawa dan Masehi. Sebelum prosesi puncak dilaksanakan, masyarakat telah lebih dahulu mengikuti sejumlah ritual adat, mulai dari Majang Tarub, Gugur Gunung, Khotmil Quran, Potong Sapi, hingga pemasangan Penjor sebagai lambang kemakmuran.
Tak hanya mempertahankan tradisi, pemerintah desa juga mengajak generasi muda berpartisipasi melalui Lomba Video Pendek bertema “Berakar Kuat, Melesat Mendunia”. Kompetisi tersebut diharapkan mampu mendorong kreativitas masyarakat dalam memperkenalkan budaya, semangat gotong royong, dan potensi Desa Tulungrejo kepada khalayak yang lebih luas.
Rangkaian peringatan satu abad Desa Tulungrejo akan terus berlangsung hingga Agustus 2026. Seluruh kegiatan dijadwalkan ditutup dengan Karnaval Budaya pada 5 Agustus 2026 sebagai puncak perayaan yang menampilkan kekayaan seni dan tradisi masyarakat setempat. (*)






