KabarBaik.co, Malang – Sejumlah siswa Madrasah Ibtida’iyah (MI) di Desa Randuagung, Singosari, Kabupaten Malang, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (11/2). Kasus ini mencuat setelah viral di media sosial dan kini masih dalam proses penyelidikan.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di MI Al Maarif 9, Desa Randuagung, Singosari. Para siswa mengeluhkan mual, muntah, sakit perut hingga pusing usai menyantap makanan yang disediakan SPPG Randuagung 3 Yayasan Sumber Pangan Nuswantoro Lancar.
Berdasarkan informasi di lapangan, pihak sekolah sebelumnya meminta agar makanan dikirim lebih awal, sekitar pukul 06.45 WIB untuk dijadikan sarapan. Namun makanan baru dibagikan sekitar pukul 08.45 WIB.
Tak lama setelah makan, beberapa siswa kelas VB mulai merasakan gejala sakit perut dan mual. Dua siswa langsung dilarikan ke puskesmas, kemudian disusul lima siswa lainnya yang diantar guru pendamping.
Dari tujuh siswa yang mendapatkan penanganan medis, enam di antaranya diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Sementara satu siswa berinisial HM dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani rawat inap karena memiliki riwayat penyakit penyerta dan suhu tubuh yang meningkat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg Wiyanto Wiyono, membenarkan adanya laporan dugaan keracunan tersebut. “Iya benar, total ada 11 anak diduga keracunan dari sekolah tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2).
Menurutnya, jumlah siswa terdampak relatif kecil dibandingkan total 494 penerima manfaat program MBG di sekolah tersebut.
“Ini kayaknya keracunan lokal, bukan karena MBG. Apakah karena mengonsumsi makanan lain seperti cilok hingga menyebabkan mual dan muntah,” ujarya.
Pihaknya telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti. “Sampel sudah kami ambil untuk diuji,” tandasnya.
Sementara itu, Satgas Percepatan Program MBG Kabupaten Malang, Budiar menyatakan telah menurunkan tim untuk melakukan monitoring. Namun hasil investigasi dan uji laboratorium masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. (*)








