KabarBaik.co, Surabaya – Penghentian sementara distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah akibat dapur penyedia atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di-suspend Badan Gizi Nasional (BGN) memunculkan beragam respons dari para siswa.
Bagi sebagian siswa, ketiadaan MBG tidak terlalu berpengaruh. Namun bagi yang lain, program tersebut justru membantu mengurangi pengeluaran harian hingga memberi ruang untuk menabung dari uang saku.
Muhammad Fairuzani, 6, siswa kelas I SD di Surabaya Barat, mengaku tidak merasa kehilangan ketika MBG tidak lagi dibagikan di sekolahnya. Selama program berjalan, ia bahkan jarang menyantap makanan yang disediakan.
“Enggak apa-apa MBG nggak ada lagi. Aku juga nggak pernah makan,” kata Fairuzani saat ditemui, Kamis (18/6).
Menurutnya, menu yang disajikan kurang sesuai dengan seleranya. Ia menilai nasi yang diterima sering kali keras, sementara lauk yang diberikan cenderung sama.
“Nasinya keras. Lauknya sering telur terus. Nggak ada sayurnya. Aku lebih suka masakan bapak di rumah,” ujarnya polos.
Fairuzani juga membandingkan menu yang diterimanya dengan sekolah lain yang menurutnya lebih beragam.
“Teman-teman dari sekolah lain ada yang dapat roti juga,” tambahnya.
Berbeda dengan Fairuzani, Rachmad Budi Ari Wicaksono, 16, siswa kelas XI SMK di Surabaya, justru merasakan manfaat langsung dari program MBG. Selama ini, ia mengaku cukup puas dengan makanan yang dibagikan di sekolah.
“Sejauh ini enak-enak saja. Menunya macam-macam, ada nasi, ayam, tempe, sama buah,” kata Rachmad.
Ia menyebut buah yang diterima juga bervariasi, mulai dari melon, semangka, buah naga hingga leci. Pembagian makanan biasanya dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB.
Menurut Rachmad, keberadaan MBG membantu mengurangi pengeluaran hariannya selama sekolah. Sebelum ada program tersebut, sebagian besar uang sakunya habis untuk makan siang dan membeli minuman.
“Kalau nggak ada MBG, saya jadi susah nabung. Biasanya uang saku dipakai makan di kantin,” ujarnya.
Dalam sepekan, Rachmad memperoleh uang saku sekitar Rp 200 ribu. Dengan adanya MBG, ia mengaku bisa menyisihkan hampir separuhnya.
“Kalau makan di sekolah bisa habis sekitar Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu per hari sama minum. Belum bensin buat motor. Jadi sejak ada MBG bisa lebih banyak yang ditabung,” tuturnya.
Cerita dua siswa tersebut menunjukkan bahwa dampak penghentian MBG tidak dirasakan sama oleh setiap anak. Ada yang menganggap program tersebut tidak terlalu berpengaruh karena menu yang diterima kurang sesuai selera. Namun ada pula yang merasakan manfaat ekonomi secara langsung karena dapat mengurangi biaya makan selama berada di sekolah.
Perbedaan pengalaman itu menjadi gambaran bagaimana pelaksanaan MBG di lapangan masih menyisakan beragam catatan, mulai dari kualitas menu hingga manfaat yang dirasakan para penerimanya. (*)






